Saturday, 2 May 2015

Makalah Fitrah Manusia Menurut Pendidikan Islam

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Manusia
     Di dalam Al-Qur’an manusia disebut antara lain dengan bani Adam, al-basyar, al-insan, an-nas dan kahfi. Banyak rumusan tentang pengertian manusia. salah satunya, berdasarkan studi isi Al-qur’an dan Al-hadist, Al-insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak.[1]
Menurut ajaran islam, manusia dibandingkan makhluk lainnya mempunyai berbagai ciri, antara lain :
1.      Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
2.      Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah.
3.      Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.
4.      Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi.
5.      Disampingkan akal, manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak.
6.      Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
7.      Berakhlak. Berakhlak adalah ciri utama manusia dibandingkan dengan makhluk lain. Artinya, manusia adalah makhluk yang diberi Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk.
Jadi, menurut agama Islam manusia itu merupakan perkaitan antara dua subtansi yaitu badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan subtansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya oleh yang lain.[2] Jadi badan tidak berasal dari ruh, begitu juga sebaliknya ruh tidak berasal dari badan. Hanya dalam perwujudannya, manusia itu serba dua, jasad dan ruh, yang keduanya berintegrasi membentuk yang disebut manusia.

B. Pengertian Fitrah
    Dari segi etimologi fitrah berasal dari kata ﻓﻄﺭ berarti al-khilqah, al-ibda’, al-ja’l (penciptaan). Dengan makna etimologi ini, maka hakekat manusia adalah sesuatu yang diciptakan, bukan menciptakan.

      Para ulama berbeda pendapat tentang makna fitrah sebagai berikut[3] :
1.      Fitrah berarti suci (al-thurhr);
2.      Fitrah berarti tulus dan murni ( al-ikhlas);
3.      Fitrah berarti agama islam ( al-millat al-islam);
4.      Fitrah berarti ke-Esa-an Allah ( al-tauhid);
5.      Fitrah berarti tabiat asli manusia (al-tabi’iy al-insaniy);
6.      Fitrah berarti penciptaan mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan ( al-sa’idah wa al-saqiyah);
7.      Fitrah berarti potensi untuk mengabdi dan ma’rifat kepada Allah;
8.      Fitrah berarti kesanggupan untuk menerima kebenaran ( isti’dad fi al-haq).
Kedelapan  makna  fitrah  tersebut dapat disebut sebagai potensi dasar manusia. artinya, setiap manusia memiliki beberapa potensi itu, dan ia diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi mana yang ia sukai.
Ibnu Khaldun, umpamanya, mencoba untuk mengedepankan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki potensi. Di antaranya adalah pada dimensi rasionalitas-intelektual. Ini terlihat dari pandangannya bahwa pengetahuan dan memberi pelajaran merupakan pembawaan tabiat bagi manusia. hal ini disebabkan karena kemampuannya untuk berpikir.
Dengan potensi akalnya, manusia mampu mengerti, memahami, menggambarkan sebab akibat sesuatu gejala, yang kemudian mencari alternatif sebagai upaya mempertahankan kehidupannya. Dengan kemampuan akalnya, manusia mampu untuk berkreasi dan berbudaya secara dinamis.
Allah memberikan manusia potensi untuk senantiasa condong pada fitrahnya yang hanif. Allah berfirman :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan  lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya. Tidak ada perubahan pada fitrah itu. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum : 30)
Pengertian fitrah yang ditunjukkan ayat di atas, memberikan pengertian bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan diberi naluri beragama, yaitu agama tauhid. Menurut Hasan Langgulung, fitrah pada pengertian yang lebih luas, yaitu pada pengertian  potensi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. namun demikian potensi tersebut hanya merupakan embrio semua kemampuan manusia, yang memerlukan penerapan lebih lanjut dari lingkungannya untuk bisa berkembang.[4]


C. Fitrah Manusia Menurut Pendidikan Islam
Penciptaan manusia disempurnakan dengan modal agar bisa menyelamakan hidupnya selama di dunia. Modal ini berupa fitrah, pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan ( Rabb). Fitrah inilah yang akan membawa manusia pada kecenderungan Ilahiyah. Namun sayangnya karena dominasi nafsu amarah dan godaan iblis fitrah ini kadang lebih banyak terbenam di alam bawah sadar manusia.[5]
Fitrah manusia merupakan anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya sehingga harus dikembangkan agar manusia dapat menjadi manusia yang sempurna. Setiap usaha pengembangan fitrah itu harus dilaksanakan secara sadar, berencana dan sistematis dan pengembangan fitrah manusia harus dilaksanakan secara menyeluruh dan berimbang karena jika tidak maka tidak akan tercapai manusia sempurna, bahkan dapat mendatangkan kehancuran bagi manusia. untuk teraktualisasinya potensi yang dimiliki manusia sesuai dengan nilai-nilai ilahiah, maka pada dasarnya pendidikan berfungsi sebagai media yang menstimulsi bagi pertumbuhan dan perkembang fitrah manusia kearah penyempurnaan dirinya.
Pada prinsipnya potensi-potensi manusia menurut pandangan Islam tersimpul pada sifat-sifat Allah ( Asma’ al husna). Artinya, sebagai contoh jika Allah bersifat al-‘ilmu  ( Maha mengetahui), maka manusia pun memiliki sifat tersebut. Dengan sifat tersebut manusia senantiasa berupaya untuk mengetahui sesuatu, setelah manusia mendapat pengetahuan akan sesuatu, maka barulah ia merasa puas. Jika tidak, ia akan berusaha terus sampai pada tujuan yang diinginkannya. Kemampuan manusia dalam mengetahui sesuatu karena ia telah dilengkapi oleh Allah dengan alat-alat (jasmani dan rohani) yang sangat menunjang dalam mewujudkan upayanya. Namun demikian, bukanlah berarti kemampuan manusia sama tingkatannya dengan kemampuan Allah. [6]

Menurut Ibnu Taimiyah membagi fitrah manusia menjadi tiga bentuk, yaitu :
1.      Fitrah al gharizat: potensi dalam diri manusia yang dibawanya sejak lahir. Bentuk fitrah ini berupa nafsu, akal, dan hati nurani. Fitrah ini dapat dikembangkan melalui pendidikan.
2.      Fitrah al munazalat : potensi ini merupakan potensi luar manusia. Adapun fitrah ini adalah wahyu ilahi yang diturunkan Allah untuk membimbing untuk mengarahkan fitrah al gharizat berkembang sesuai dengan fitrahnya yang hanif. Semakin tinggi interaksi antara kedua fitrah tersebut, maka akan semakin tinggi pula kualitas manusia.
Derajat manusia lebih tinggi dan lebih mulia dari makhluk Allah yang lain, bahkan dari para malaikat sekalipun. Inilah fitrah manusia, makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Jika manusia mengabaikan fitrahnya yang suci, derajat manusia akan sama dengan iblis yang rendah. Selain fitrah dalam hal perjanjian manusia dengan Allah, fitrah manusia yang lain adalah sebagai makhluk yang siap menerima dan mengemban amanah Allah. Amanah Allah pada manusia adalah agar manusia beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah yang memakmurkan bumi.[7]










BAB III
PENUTUP
A.   Simpulan
*         Di dalam Al-Qur’an manusia disebut antara lain dengan bani Adam, al-basyar, al-insan, an-nas dan kahfi. Banyak rumusan tentang pengertian manusia. salah satunya, berdasarkan studi isi Al-qur’an dan Al-hadist, Al-insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak.
*    Dari segi etimologi fitrah berasal dari kata ﻓﻄﺭ berarti al-khilqah, al-ibda’, al-ja’l (penciptaan). Dengan makna etimologi ini, maka hakekat manusia adalah sesuatu yang diciptakan, bukan menciptakan. fitrah pada pengertian yang lebih luas, yaitu pada pengertian  potensi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. namun demikian potensi tersebut hanya merupakan embrio semua kemampuan manusia, yang memerlukan penerapan lebih lanjut dari lingkungannya untuk bisa berkembang.

*          Penciptaan manusia disempurnakan dengan modal agar bisa menyelamakan hidupnya selama di dunia. Modal ini berupa fitrah, pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan ( Rabb). Fitrah inilah yang akan membawa manusia pada kecenderungan Ilahiyah. Fitrah manusia merupakan anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya itu harus dikembangkan agar manusia dapat menjadi manusia yang sempurna.

B.   Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.





DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad Daud. Prof. H.,Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998. h.10
Zuhairini. Dra. dkk., Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2009. h.75
Ramayulis. Prof. Dr. H., Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: Kalam Mulia, 2002. h.279-280
Chalil, Achjar dan Hudaya Latuconsina, Pembelajaran Berbasis Fitrah. Jakarta:Balai             Pustaka, 2008. h. 55 dan h.59-60








                                                                                                   




[1] Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H., Pendidikan Agama Islam (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1998) h.11
       [2]Dra. Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2009) h.75
       [3]Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam ( Jakarta: Kalam Mulia, 2002) h. 278
       [4] Prof. Dr. H. Ramayulis, op.cit., h.280
 [5] Achjar Chalil dan Hudaya Latuconsina, Pembelajaran Berbasis Fitrah (Jakarta:Balai             Pustaka,2008) h. 55
[6] Prof. Dr. H. Ramayulis, op.cit.,h.279
[7] Achjar Chalil, op.cit.,h.59-60

2 comments: