Sunday, 24 May 2015

PANDANGAN ISLAM TENTANG ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN BARAT (NATURALISME, EMPERISME dan BEHAVIORISME/LINGKUNGAN)

BAB II
Pembahasan
A.    Pandangan Islam terhadap Aliran Naturalisme
Aliran nativisme hampir sama dengan aliran naturalisme. Nature artinya alam ataupun yang dibawa sejak lahir. Aliran ini berpendapat bahwa pada dasarnya semua anak ( manusia ) adalah baik. Meskipun aliran ini percaya dengan kebaikan awal manusia. Aliran ini tidak menafikkan dan pengaruh lingkungan atau pendidikan. Pendidikan yang baik akan mengantarkan terciptanya manusia yang baik. Sebaliknya pendidikan dan lingkungan yang jelek akan berakibat manusia menjadi jelek juga. Filsuf Perancis J.J Rouseau (1712-1778) berpendapat bahwa:
a.       Sejak lahir anak sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri, baik bakat, minat, kemampuan, sifat, watak, maupun pembawaan lainnya.
b.      Pembawaan itu akan berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungannya.
c.       Semua yang baik dari tangan sang pencipta, dan semua menjadi buruk di tangan manusia.
 J.J Rouseau sebagai tokoh aliran ini mengatakan, “semua anak adalah baik pada dilahirkan, tetapi menjadi rusak di tangan manusia”. Oleh karena itu dia mengajukan pendapat agar pendidikan anak menggunakan sistem “pendidikan alam”. Artinya anak hendaklah di biarkan tumbuh dan berkembang menurut alamnya. Manusia dan masyarakat jangan terlalu mencampurinya.[1]

B.     Pandangan Islam terhadap Aliran Emperisme
Aliran emperisme berlawanan dengan aliran nativisme. Kalau dalam nativisme pembawaan atau keturunan menjadi faktor penentu yang mempengarui perkembangan manusia, maka dalam emperisme yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah lingkungan dan pengalaman pendidiknya.
Aliran emperisme yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa manusia itu dalam hidup dan perkembangan pribadinya semata-mata ditentukan oleh dunia luar. Sedangkan pengaruh-pengaruh dari dalam (faktor keturunan) dianggapnya tidak ada. Misalnya: suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala alat diberikan dan guru-guru yang ahli di datangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidaka ada.[2]
Tokoh utama aliran ini adalah Jhon Locke (1632-1704) dengan gagasan awalnya mendirikan “The school of british empericism” (aliran emperisme inggris). Sekalipun aliran ini bermarkas di Inggris tetapi pengaruhnya sampai di Amerika Serikat sehingga melahirkan aliran “environmental psychology” (psikologi lingkungan, 1988).[3]
Secara eksplisit aliran emperisme menekankan bertapa peran lingkungan dan pengalaman pendidikan sangat besar dalam mengubah atau mengembangkan manusia dan setiap anak bisa di bentuk sesuai dengan kepentingan dan arah lingkungan.
Doktrin mendasar yang masyur dalam aliran emperisme adalah teori “tabula rasa”, sebuah istilah latin yang berarti batu tulis kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan. Dalam arti perkembangan manusia tergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.
Dalam hal ini, para penganut emperisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa anak kelak tergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya. Nabi Muhammad SAW: bersabda “semua anak dilahirkan dalam keadaan suci, ibu dan bapaknya yang akan menentukan apakah anak tersebut akan menjadi Yahudi,Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari).
Bagi aliran ini, pembentukan moral dan perilaku manusia akan sangat tergantung pada kondisi lingkungannya. Lingkungan yang baik (bermoral) tempat dimana anak-anak melakukan interaksi akan terpengaruh pada terciptanya anak-anak yang berperilaku dan bermoral baik. Demikianpula lingkungan yang baik akan menciptakan anak-anak yang bermoral tidak baik.
Kaum Behavioris sependapat dengan kaum Empiris itu. Sebagain contoh kami kemukakan disini kata-kata Watson, behavioris tulen dari Amerika: “berilah saya sejumlah anak-anak yang baik keadaan badannya dan situasi-situasinya yang saya butuhkan. Setiap anak tersebut, entah yang mana, akan saya jadikan dokter, pedagang, ahli hukum, atau jika dikehendaki jadi pengemis atau pencuri”.[4]
Aliran emperisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungannya, sedangkan pembawaan tidak dipertimbangkan sama sekali. Tokoh aliran emperisme ini adalah filsuf Inggris yang bernama John Locke (1704-1932) yang mengemukakan tentang teori tabularasa, yakni:
a.       Segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan oleh pengalaman (empiri).
b.      Lingkungan membentuk perkembangan manusia atau anak didik.
c.       Lingkungan 100% menentukan perkembangan manusia.
d.      Anak yang lahir tidak membawa apa-apa, ia bagaikan kertas kosong.



C.    Pandangan Islam terhadap Aliran Behaviorisme (lingkungan)
Aliran behaviorisme ini memandang bahwa manusia dilahirkan bagaikan sebuah kertas putih yang tidak ada tulisan apapun. lingkunganlah yang mengisi bentuk dan corak dari kertas tersebut. Berdasarkan pandangan ini kaum behavioris berpendapat bahwa manusia dalam kehidupannya akan berkembang sesuai dengan stimulus yang diterima dari lingkungannya.
Harus diakui bahwa lingkungan sedikit-banyak dapat mempengaruhi perilaku manusia, hal tersebut sebagaimana sabda Rasulallah saw :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟  (رواه البخاري)
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?”(H.R Bukhari)
Berdasarkan pemahaman hadits tersebut di atas, ada hal yang dinafikan oleh aliran behaviorisme, yakni fitrah (potensi) yang ada pada tiap individu. Kenyataanya, manusia lahir dengan potensi ciri khasnya sendiri yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan inilah yang dilupakan oleh kaum behavioris. Hasan Langgulung mengartikan fitrah tersebut sebagai potensi-potensi yang dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut merupakan suatu keterpaduan yang tersimpul dalam Asma’ul Husna. Batasan tersebut memberikn arti, misalnya sifat Allah Al-Ilmu “maha mengetahui” maka manusia pun memiliki potensi untuk bersifat mengetahui dan begitu juga semuanya. Akan tetapi kemampuan manusia tentu saja berbeda dengan Allah. Hal ini disebabkan karena berbeda hakikat diantara keduanya. Allah memilki sifat kemaha sempurnaan sedangkan manusia memiliki sifat keterbatasan. Keterbatasan itulah yang menyebabkan manusia membutuhkan pertolongan dan bantuan untuk memenuhi segala kebutuhan. Keadaan ini menyadarkan manusia tentang ke-Esaan Allah, sehingga inilah letak fitrah beragama manusia sebagai manifestasi memenuhi kebutuhan rohaniahnya.
Kritik yang dapat disampaikan adalah adanya kecenderungannya untuk mereduksi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini terlihat cara kaum behavioris memperlakukan seorang anak. Mereka beranggapan bahwa seorang anak berperilaku (memberikan respon) sesuai dengan stimulus yang diberikan. Ini bararti dianggap sebagai sebuah mesin sehingga teorinya bersifat mekanistis.
Sementara Istilah kognitif adalah merujuk kepada suatu proses kemampuan berfikir  manusia untuk mengenali dan menenmukan informasi sama ada yang bersumber dari dalam manusia maupun yang bersumber dari luar manusia atau faktor lingkungan.
Kemampuan berfikir merupakan salah satu potensi yang ada pada diri manusia. Menurut Ibn Taimiyah sebagaimana disitir Juhaja S. Praja pada diri manusia juga memiliki setidaknya tiga potensi fitrah yaitu:
Ø  Daya intelektual (quwwat al-al-‘aql) yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
Ø  Daya ofensif (quwwat al-syahwat) yaitu potensi yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi objek-objek yang menyenangkan dan bermamfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah secara serasi dan seimbang.
Ø  Daya defensif (quwwat al-ghaddab) yaitu potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari perbuatan yang dapat membahayakan dirinya.
Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalampikiran peserta didik. Berdasarkan suatu teori belajar, suatu pembelajaran diharapkan dapat lebih meningkatkan perolehan peserta didik sebagai hasil belajar (Trianto, 2007: 12). Teori belajar juga dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang terkait dengan peristiwa belajar. Di antara sekian banyak teori belajar itu antara lain teori belajar behavioristik.
Pelopor aliran behaviorisme ini adalah John Broadus Watson. Melalui studi eksperimental, Watson menjelaskan konsep kepribadian dengan mempelajari tingkah laku manusia yang mengacu pada konsep stimulus – respons.
Aliran behaviorisme ini menolak pandangan dari aliran pendahulunya, yaitu aliran psikoanalisa yang memandang bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh insting tak sadar dan dorongan-dorongan nafsu rendah. Aliran behaviorisme ini lebih memandang aspek stimulasi lingkungan yang dapat membentuk perilaku manusia dengan sesuka hati lingkungan eksternal itu. Aliaran behaviorisme ini mengganti konsep kesadaran dan ketidaksadaran ala psikoanalisa dengan istilah stimulus, response, dan habit. Stimulus selanjutnya dimaknakan sebagai sesuatu yang dapat dimanipulasi atau direkayasa lingkungan sebagai upaya membentuk perilaku manusia melalui respons yang muncul sebagaimana yang diharapkan lingkungan, sedangkan habit adalah hasil pembentukan perilaku tersebut (Koesma, 2000: 56).
Ivan Pavlov (1849-1936), ahli psikologi Rusia, meletakkan suatu tahapan penting bagi psikologi behavioris lewat kajiannya tentang reaksi refleks. Pavlov menuliskan bahwa ia dapat mengkondisikan anjing-anjing keluar air liur dengan membunyikan sebuah bel, jika anjing tadi sebelumnya telah dilatih untuk menghubungkan suara bel dengan tersediany makanan. Bapak behaviorisme modrn, John B. Watson (1878-1958), senada dengan pavlov, menegaskan bahwa tingkah laku manusia adalah dari refleks-refleks yang terkondisikan.[5]













BAB III
PENUTUP

         A.  S IMPULAN
1.      Aliran nativisme hampir sama dengan aliran naturalisme. Nature artinya alam ataupun yang dibawa sejak lahir. Aliran ini berpendapat bahwa pada dasarnya semua anak ( manusia ) adalah baik. Meskipun aliran ini percaya dengan kebaikan awal manusia. Aliran ini tidak menafikkan dan pengaruh lingkungan atau pendidikan. Pendidikan yang baik akan mengantarkan terciptanya manusia yang baik. Sebaliknya pendidikan dan lingkungan yang jelek akan berakibat manusia menjadi jelek juga.
2.      Aliran emperisme yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa manusia itu dalam hidup dan perkembangan pribadinya semata-mata ditentukan oleh dunia luar. Sedangkan pengaruh-pengaruh dari dalam (faktor keturunan) dianggapnya tidak ada. Misalnya: suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala alat diberikan dan guru-guru yang ahli di datangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidaka ada.
3.      Aliran behaviorisme ini memandang bahwa manusia dilahirkan bagaikan sebuah kertas putih yang tidak ada tulisan apapun. lingkunganlah yang mengisi bentuk dan corak dari kertas tersebut. Berdasarkan pandangan ini kaum behavioris berpendapat bahwa manusia dalam kehidupannya akan berkembang sesuai dengan stimulus yang diterima dari lingkungannya.



b     B. SARAN
1.      Dalam proses pendidikan seharusnya pendidik tidak berorientasi pada salah satu aliran diatas. Akan tetapi berusaha menggabungkan ketiga aliran tersebut dengan tetap memohon hidayah Allah demi keberhasilan pendidikan.
2.      Bagi peserta didik tidak boleh menjadikan salah satu aliran diatas menjadi alasan untuk tidak mau belajar dan berusaha.









DAFTAR PUSTAKA

Al-Syaibani, Omar M. Al-Toumy., Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta : Bulan Bintang, 1997.h. 138
Ahmadi, Abu. Drs.H., Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta,2007. h.293
Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan dan Praktis. Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1988.h.59
Suardi, Moh., Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT Indeks, 2012.h. 43
R.Knight, George, Fisafat Pendidikan.yogyakarta : Gama Media, 2001. h.195



[1] Omar M. al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), h. 138
[2] Drs. H. Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan (cet II; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007), h. 293
[3] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan dan Praktis, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1988), h. 59   
[4] Moh. Suardi, Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi,(Jakarta: PT Indeks, 2012), h. 43


[5] George R. Knight, Fisafat Pendidikan, (Yogyakarta: Gama Media, 2007), h. 195

No comments:

Post a Comment