BAB II
Pembahasan
A.
Pandangan
Islam terhadap Aliran Naturalisme
Aliran
nativisme hampir sama dengan aliran naturalisme. Nature artinya alam ataupun yang
dibawa sejak lahir. Aliran ini berpendapat bahwa pada dasarnya semua anak (
manusia ) adalah baik. Meskipun aliran ini percaya dengan kebaikan awal
manusia. Aliran ini tidak menafikkan dan pengaruh lingkungan atau pendidikan.
Pendidikan yang baik akan mengantarkan terciptanya manusia yang baik.
Sebaliknya pendidikan dan lingkungan yang jelek akan berakibat manusia menjadi
jelek juga. Filsuf Perancis J.J Rouseau (1712-1778) berpendapat bahwa:
a. Sejak
lahir anak sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri, baik bakat, minat,
kemampuan, sifat, watak, maupun pembawaan lainnya.
b. Pembawaan
itu akan berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungannya.
c. Semua
yang baik dari tangan sang pencipta, dan semua menjadi buruk di tangan manusia.
J.J Rouseau sebagai tokoh aliran ini
mengatakan, “semua anak adalah baik pada dilahirkan, tetapi menjadi rusak di
tangan manusia”. Oleh karena itu dia mengajukan pendapat agar pendidikan anak
menggunakan sistem “pendidikan alam”. Artinya anak hendaklah di biarkan tumbuh
dan berkembang menurut alamnya. Manusia dan masyarakat jangan terlalu
mencampurinya.[1]
B.
Pandangan
Islam terhadap Aliran Emperisme
Aliran
emperisme berlawanan dengan aliran nativisme. Kalau dalam nativisme pembawaan
atau keturunan menjadi faktor penentu yang mempengarui perkembangan manusia, maka
dalam emperisme yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah lingkungan dan
pengalaman pendidiknya.
Aliran
emperisme yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa manusia itu dalam hidup dan
perkembangan pribadinya semata-mata ditentukan oleh dunia luar. Sedangkan
pengaruh-pengaruh dari dalam (faktor keturunan) dianggapnya tidak ada. Misalnya:
suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala
alat diberikan dan guru-guru yang ahli di datangkan. Akan tetapi gagal, karena
bakat melukis pada anak itu tidaka ada.[2]
Tokoh
utama aliran ini adalah Jhon Locke
(1632-1704) dengan gagasan awalnya mendirikan “The school of british empericism” (aliran emperisme inggris).
Sekalipun aliran ini bermarkas di Inggris tetapi pengaruhnya sampai di Amerika
Serikat sehingga melahirkan aliran “environmental psychology” (psikologi
lingkungan, 1988).[3]
Secara
eksplisit aliran emperisme menekankan bertapa peran lingkungan dan pengalaman
pendidikan sangat besar dalam mengubah atau mengembangkan manusia dan setiap
anak bisa di bentuk sesuai dengan kepentingan dan arah lingkungan.
Doktrin
mendasar yang masyur dalam aliran emperisme adalah teori “tabula rasa”, sebuah istilah
latin yang berarti batu tulis kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula
rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan. Dalam arti perkembangan
manusia tergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan
bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.
Dalam
hal ini, para penganut emperisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula
rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak
menjadi apa anak kelak tergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.
Nabi Muhammad SAW: bersabda “semua anak
dilahirkan dalam keadaan suci, ibu dan bapaknya yang akan menentukan apakah
anak tersebut akan menjadi Yahudi,Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari).
Bagi
aliran ini, pembentukan moral dan perilaku manusia akan sangat tergantung pada
kondisi lingkungannya. Lingkungan yang baik (bermoral) tempat dimana anak-anak
melakukan interaksi akan terpengaruh pada terciptanya anak-anak yang
berperilaku dan bermoral baik. Demikianpula lingkungan yang baik akan
menciptakan anak-anak yang bermoral tidak baik.
Kaum
Behavioris sependapat dengan kaum Empiris itu. Sebagain contoh kami kemukakan
disini kata-kata Watson, behavioris
tulen dari Amerika: “berilah saya
sejumlah anak-anak yang baik keadaan badannya dan situasi-situasinya yang saya
butuhkan. Setiap anak tersebut, entah yang mana, akan saya jadikan dokter,
pedagang, ahli hukum, atau jika dikehendaki jadi pengemis atau pencuri”.[4]
Aliran
emperisme bertolak dari Lockean Tradition
yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan
menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungannya, sedangkan
pembawaan tidak dipertimbangkan sama sekali. Tokoh aliran emperisme ini adalah
filsuf Inggris yang bernama John Locke
(1704-1932) yang mengemukakan tentang teori
tabularasa, yakni:
a. Segala
pengetahuan, keterampilan, dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan
oleh pengalaman (empiri).
b. Lingkungan
membentuk perkembangan manusia atau anak didik.
c. Lingkungan
100% menentukan perkembangan manusia.
d. Anak
yang lahir tidak membawa apa-apa, ia bagaikan kertas kosong.
C.
Pandangan
Islam terhadap Aliran Behaviorisme (lingkungan)
Aliran behaviorisme ini memandang
bahwa manusia dilahirkan bagaikan sebuah kertas putih yang tidak ada tulisan
apapun. lingkunganlah yang mengisi bentuk dan corak dari kertas tersebut.
Berdasarkan pandangan ini kaum behavioris berpendapat bahwa manusia dalam kehidupannya
akan berkembang sesuai dengan stimulus yang diterima dari lingkungannya.
Harus diakui bahwa lingkungan
sedikit-banyak dapat mempengaruhi perilaku manusia, hal tersebut sebagaimana
sabda Rasulallah saw :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى
الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى
فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ (رواه البخاري)
“Setiap
anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh
hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?”(H.R Bukhari)
Berdasarkan pemahaman hadits
tersebut di atas, ada hal yang dinafikan oleh aliran behaviorisme, yakni fitrah
(potensi) yang ada pada tiap individu. Kenyataanya, manusia lahir dengan
potensi ciri khasnya sendiri yang berbeda antara yang satu dengan yang lain,
dan inilah yang dilupakan oleh kaum behavioris. Hasan Langgulung mengartikan fitrah tersebut sebagai
potensi-potensi yang dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut merupakan suatu
keterpaduan yang tersimpul dalam Asma’ul Husna. Batasan tersebut memberikn
arti, misalnya sifat Allah Al-Ilmu “maha mengetahui” maka manusia pun
memiliki potensi untuk bersifat mengetahui dan begitu juga semuanya. Akan
tetapi kemampuan manusia tentu saja berbeda dengan Allah. Hal ini disebabkan
karena berbeda hakikat diantara keduanya. Allah memilki sifat kemaha sempurnaan
sedangkan manusia memiliki sifat keterbatasan. Keterbatasan itulah yang
menyebabkan manusia membutuhkan pertolongan dan bantuan untuk memenuhi segala
kebutuhan. Keadaan ini menyadarkan manusia tentang ke-Esaan Allah, sehingga
inilah letak fitrah beragama manusia sebagai manifestasi memenuhi kebutuhan
rohaniahnya.
Kritik
yang dapat disampaikan adalah adanya kecenderungannya untuk mereduksi nilai-nilai
kemanusiaan. Hal ini terlihat cara kaum behavioris memperlakukan seorang anak.
Mereka beranggapan bahwa seorang anak berperilaku (memberikan respon) sesuai dengan stimulus yang diberikan. Ini
bararti dianggap sebagai sebuah mesin sehingga teorinya bersifat mekanistis.
Sementara Istilah kognitif adalah
merujuk kepada suatu proses kemampuan berfikir manusia untuk mengenali dan menenmukan
informasi sama ada yang bersumber dari dalam manusia maupun yang bersumber dari
luar manusia atau faktor lingkungan.
Kemampuan berfikir merupakan salah
satu potensi yang ada pada diri manusia. Menurut Ibn Taimiyah sebagaimana
disitir Juhaja S. Praja pada diri manusia juga memiliki setidaknya tiga potensi
fitrah yaitu:
Ø Daya intelektual (quwwat
al-al-‘aql) yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan
nilai intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
Ø Daya ofensif (quwwat al-syahwat)
yaitu potensi yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi objek-objek yang
menyenangkan dan bermamfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun
rohaniah secara serasi dan seimbang.
Ø Daya defensif (quwwat al-ghaddab)
yaitu potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari perbuatan yang dapat
membahayakan dirinya.
Teori belajar pada dasarnya
merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana
informasi diproses di dalampikiran peserta didik. Berdasarkan suatu teori
belajar, suatu pembelajaran diharapkan dapat lebih meningkatkan perolehan
peserta didik sebagai hasil belajar (Trianto, 2007: 12). Teori belajar juga
dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling
berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang
terkait dengan peristiwa belajar. Di antara sekian banyak teori belajar itu
antara lain teori belajar behavioristik.
Pelopor aliran behaviorisme ini
adalah John Broadus Watson. Melalui
studi eksperimental, Watson menjelaskan konsep kepribadian dengan mempelajari
tingkah laku manusia yang mengacu pada konsep stimulus – respons.
Aliran behaviorisme ini menolak
pandangan dari aliran pendahulunya, yaitu aliran psikoanalisa yang memandang
bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh insting tak sadar dan dorongan-dorongan
nafsu rendah. Aliran behaviorisme ini lebih memandang aspek stimulasi
lingkungan yang dapat membentuk perilaku manusia dengan sesuka hati lingkungan
eksternal itu. Aliaran behaviorisme ini mengganti konsep kesadaran dan
ketidaksadaran ala psikoanalisa dengan istilah stimulus, response, dan habit.
Stimulus selanjutnya dimaknakan sebagai sesuatu yang dapat dimanipulasi atau
direkayasa lingkungan sebagai upaya membentuk perilaku manusia melalui respons
yang muncul sebagaimana yang diharapkan lingkungan, sedangkan habit
adalah hasil pembentukan perilaku tersebut (Koesma, 2000: 56).
Ivan Pavlov (1849-1936), ahli
psikologi Rusia, meletakkan suatu tahapan penting bagi psikologi behavioris
lewat kajiannya tentang reaksi refleks. Pavlov menuliskan bahwa ia dapat
mengkondisikan anjing-anjing keluar air liur dengan membunyikan sebuah bel,
jika anjing tadi sebelumnya telah dilatih untuk menghubungkan suara bel dengan
tersediany makanan. Bapak behaviorisme modrn, John B. Watson (1878-1958),
senada dengan pavlov, menegaskan bahwa tingkah laku manusia adalah dari
refleks-refleks yang terkondisikan.[5]
BAB
III
PENUTUP
A. S IMPULAN
1. Aliran
nativisme hampir sama dengan aliran naturalisme. Nature artinya alam ataupun
yang dibawa sejak lahir. Aliran ini berpendapat bahwa pada dasarnya semua anak
( manusia ) adalah baik. Meskipun aliran ini percaya dengan kebaikan awal
manusia. Aliran ini tidak menafikkan dan pengaruh lingkungan atau pendidikan.
Pendidikan yang baik akan mengantarkan terciptanya manusia yang baik.
Sebaliknya pendidikan dan lingkungan yang jelek akan berakibat manusia menjadi
jelek juga.
2. Aliran
emperisme yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa manusia itu dalam hidup dan
perkembangan pribadinya semata-mata ditentukan oleh dunia luar. Sedangkan
pengaruh-pengaruh dari dalam (faktor keturunan) dianggapnya tidak ada.
Misalnya: suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis.
Segala alat diberikan dan guru-guru yang ahli di datangkan. Akan tetapi gagal,
karena bakat melukis pada anak itu tidaka ada.
3.
Aliran
behaviorisme ini memandang bahwa manusia dilahirkan bagaikan sebuah kertas
putih yang tidak ada tulisan apapun. lingkunganlah yang mengisi bentuk dan
corak dari kertas tersebut. Berdasarkan pandangan ini kaum behavioris
berpendapat bahwa manusia dalam kehidupannya akan berkembang sesuai dengan
stimulus yang diterima dari lingkungannya.
b B. SARAN
1. Dalam proses pendidikan seharusnya pendidik tidak berorientasi pada
salah satu aliran diatas. Akan tetapi berusaha menggabungkan ketiga aliran
tersebut dengan tetap memohon hidayah Allah demi keberhasilan pendidikan.
2. Bagi peserta didik tidak boleh menjadikan salah satu aliran diatas
menjadi alasan untuk tidak mau belajar dan berusaha.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Syaibani,
Omar M. Al-Toumy., Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta :
Bulan Bintang, 1997.h. 138
Ahmadi, Abu.
Drs.H., Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT
Rineka Cipta,2007. h.293
Purwanto, M.
Ngalim, Ilmu Pendidikan dan Praktis.
Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1988.h.59
Suardi, Moh., Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi. Jakarta
: PT Indeks, 2012.h. 43
R.Knight, George, Fisafat Pendidikan.yogyakarta : Gama
Media, 2001. h.195
[1] Omar M. al-Toumy al-Syaibani, Falsafah
Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), h. 138
[2] Drs. H. Abu Ahmadi, Ilmu
Pendidikan (cet II; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007), h. 293
[3] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan
dan Praktis, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1988), h. 59
[5] George R. Knight, Fisafat
Pendidikan, (Yogyakarta: Gama Media, 2007), h. 195
No comments:
Post a Comment