BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Manusia
Di dalam
Al-Qur’an manusia disebut antara lain dengan bani Adam, al-basyar, al-insan, an-nas dan kahfi. Banyak rumusan
tentang pengertian manusia. salah satunya, berdasarkan studi isi Al-qur’an dan
Al-hadist, Al-insan (manusia) adalah
makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah),
dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta
mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan
berakhlak.[1]
Menurut ajaran islam, manusia
dibandingkan makhluk lainnya mempunyai berbagai ciri, antara lain :
1. Makhluk yang paling unik, dijadikan
dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
2. Manusia memiliki potensi (daya atau
kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah.
3. Manusia diciptakan Allah untuk
mengabdi kepada-Nya.
4. Manusia diciptakan Allah untuk
menjadi khalifah-Nya di bumi.
5. Disampingkan akal, manusia
dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak.
6. Secara individual manusia bertanggung
jawab atas segala perbuatannya.
7. Berakhlak. Berakhlak adalah ciri
utama manusia dibandingkan dengan makhluk lain. Artinya, manusia adalah makhluk
yang diberi Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk.
Jadi, menurut agama Islam manusia itu merupakan perkaitan
antara dua subtansi yaitu badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan
subtansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya oleh yang lain.[2]
Jadi badan tidak berasal dari ruh, begitu juga sebaliknya ruh tidak berasal
dari badan. Hanya dalam perwujudannya, manusia itu serba dua, jasad dan ruh,
yang keduanya berintegrasi membentuk yang disebut manusia.
B. Pengertian Fitrah
Dari segi etimologi
fitrah berasal dari kata ﻓﻄﺭ berarti al-khilqah, al-ibda’, al-ja’l
(penciptaan). Dengan makna etimologi ini, maka hakekat manusia adalah sesuatu
yang diciptakan, bukan menciptakan.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna fitrah sebagai berikut[3]
:
1. Fitrah berarti suci (al-thurhr);
2. Fitrah berarti tulus dan murni ( al-ikhlas);
3. Fitrah berarti agama islam ( al-millat al-islam);
4. Fitrah berarti ke-Esa-an Allah ( al-tauhid);
5. Fitrah berarti tabiat asli manusia (al-tabi’iy al-insaniy);
6. Fitrah berarti penciptaan mengenai
kebahagiaan dan kesengsaraan ( al-sa’idah
wa al-saqiyah);
7. Fitrah berarti potensi untuk
mengabdi dan ma’rifat kepada Allah;
8. Fitrah berarti kesanggupan untuk
menerima kebenaran ( isti’dad fi al-haq).
Kedelapan makna fitrah
tersebut dapat disebut sebagai potensi
dasar manusia. artinya, setiap manusia memiliki beberapa potensi itu, dan ia
diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi mana yang ia sukai.
Ibnu Khaldun, umpamanya, mencoba
untuk mengedepankan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki potensi. Di
antaranya adalah pada dimensi rasionalitas-intelektual. Ini terlihat dari
pandangannya bahwa pengetahuan dan memberi pelajaran merupakan pembawaan tabiat
bagi manusia. hal ini disebabkan karena kemampuannya untuk berpikir.
Dengan potensi akalnya, manusia
mampu mengerti, memahami, menggambarkan sebab akibat sesuatu gejala, yang
kemudian mencari alternatif sebagai upaya mempertahankan kehidupannya. Dengan
kemampuan akalnya, manusia mampu untuk berkreasi dan berbudaya secara dinamis.
Allah memberikan manusia potensi
untuk senantiasa condong pada fitrahnya
yang hanif. Allah berfirman :
“Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrahnya. Tidak ada perubahan pada fitrah itu. (itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum : 30)
Pengertian fitrah yang ditunjukkan ayat di atas, memberikan pengertian bahwa
manusia diciptakan oleh Allah dengan diberi naluri beragama, yaitu agama
tauhid. Menurut Hasan Langgulung, fitrah pada pengertian yang lebih luas, yaitu
pada pengertian potensi dasar yang
dimiliki oleh setiap manusia. namun demikian potensi tersebut hanya merupakan
embrio semua kemampuan manusia, yang memerlukan penerapan lebih lanjut dari
lingkungannya untuk bisa berkembang.[4]
C. Fitrah Manusia Menurut Pendidikan
Islam
Penciptaan manusia disempurnakan
dengan modal agar bisa menyelamakan hidupnya selama di dunia. Modal ini berupa
fitrah, pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan ( Rabb). Fitrah inilah yang akan membawa manusia pada kecenderungan Ilahiyah.
Namun sayangnya karena dominasi nafsu amarah dan godaan iblis fitrah ini kadang
lebih banyak terbenam di alam bawah sadar manusia.[5]
Fitrah manusia merupakan anugerah
Allah SWT yang tak ternilai harganya sehingga harus dikembangkan agar manusia dapat
menjadi manusia yang sempurna. Setiap usaha pengembangan fitrah itu harus
dilaksanakan secara sadar, berencana dan sistematis dan pengembangan fitrah
manusia harus dilaksanakan secara menyeluruh dan berimbang karena jika tidak
maka tidak akan tercapai manusia sempurna, bahkan dapat mendatangkan kehancuran
bagi manusia. untuk teraktualisasinya potensi yang dimiliki manusia sesuai
dengan nilai-nilai ilahiah, maka pada dasarnya pendidikan berfungsi sebagai
media yang menstimulsi bagi pertumbuhan dan perkembang fitrah manusia kearah
penyempurnaan dirinya.
Pada prinsipnya potensi-potensi
manusia menurut pandangan Islam tersimpul pada sifat-sifat Allah ( Asma’ al
husna). Artinya, sebagai contoh jika Allah bersifat al-‘ilmu ( Maha mengetahui), maka manusia pun memiliki
sifat tersebut. Dengan sifat tersebut manusia senantiasa berupaya untuk
mengetahui sesuatu, setelah manusia mendapat pengetahuan akan sesuatu, maka
barulah ia merasa puas. Jika tidak, ia akan berusaha terus sampai pada tujuan
yang diinginkannya. Kemampuan manusia dalam mengetahui sesuatu karena ia telah
dilengkapi oleh Allah dengan alat-alat (jasmani dan rohani) yang sangat
menunjang dalam mewujudkan upayanya. Namun demikian, bukanlah berarti kemampuan
manusia sama tingkatannya dengan kemampuan Allah. [6]
Menurut Ibnu Taimiyah membagi fitrah
manusia menjadi tiga bentuk, yaitu :
1. Fitrah al gharizat: potensi dalam
diri manusia yang dibawanya sejak lahir. Bentuk fitrah ini berupa nafsu, akal,
dan hati nurani. Fitrah ini dapat dikembangkan melalui pendidikan.
2. Fitrah al munazalat : potensi ini
merupakan potensi luar manusia. Adapun fitrah ini adalah wahyu ilahi yang
diturunkan Allah untuk membimbing untuk mengarahkan fitrah al gharizat
berkembang sesuai dengan fitrahnya yang hanif. Semakin tinggi interaksi antara
kedua fitrah tersebut, maka akan semakin tinggi pula kualitas manusia.
Derajat manusia lebih tinggi dan
lebih mulia dari makhluk Allah yang lain, bahkan dari para malaikat sekalipun.
Inilah fitrah manusia, makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Jika manusia
mengabaikan fitrahnya yang suci, derajat manusia akan sama dengan iblis yang
rendah. Selain fitrah dalam hal perjanjian manusia dengan Allah, fitrah manusia
yang lain adalah sebagai makhluk yang siap menerima dan mengemban amanah Allah.
Amanah Allah pada manusia adalah agar manusia beribadah kepada Allah dan
menjadi khalifah yang memakmurkan bumi.[7]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
B.
Saran
Demikianlah
makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam
pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu
kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali, Muhammad Daud.
Prof. H.,Pendidikan Agama Islam.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998. h.10
Zuhairini.
Dra. dkk., Filsafat Pendidikan Islam.
Jakarta: Bumi Aksara, 2009. h.75
Ramayulis.
Prof. Dr. H., Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:
Kalam Mulia, 2002. h.279-280
Chalil,
Achjar dan Hudaya Latuconsina, Pembelajaran
Berbasis Fitrah. Jakarta:Balai
Pustaka, 2008. h. 55 dan h.59-60
ye gati
ReplyDeleteye gati
ReplyDelete