ALIRAN-ALIRAN LINGUISTIK
DAN PERKEMBANGAN LINGUISTIK DI INDONESIA
Diajukan dalam rangka
untuk memenuhi salah satu tugas pada
Mata Kuliah Phonetic and
Phonologi Jurusan Tarbiyah
Program Studi TBI 1
Kelompok 4
OLEH :

REZKYA ASTARI
NIM
: 02134101
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM NEGRI (STAIN)
WATAMPONE
2013
Abstrak
Perkembangan linguistik pada saat ini sangatlah pesat. Dalam perkembangannya, terutama yang berhubungan dengan aliran linguistik, tentu saja akan menimbulkan masalah-masalah dalam linguistik atau yang berkaitan dengan linguistik. Berawal dari permasalahan-permasalahan tersebut, banyak sekali ilmuwan yang mengemukakan ide-idenya tentang cara memahami lingusitik lebih lanjut. Namun tanpa pengetahuan yang memadai mengenai linguistik, tentu saja akan banyak kendala dalam memahaminya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hakikat dan objek kajian linguistik merupakan pintu masuk untuk mendalami aliran-aliran linguistic.Secara umum, perkembangan kajian linguistik tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan penelitian yang telah dihasilkan serta munculnya bermacam gerakan dan aliran. Perkembangan teori-teori tersebut merata pada berbagai cabang-cabang linguistik, seperti pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, juga pragmatik. Bukan itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari perkembangan teori tersebut juga menjadi lahirnya teori baru, sehingga penelitian yang dihasilkan tidak terlepas dari gerakan dan aliran yang memayungi dunia linguistik.
Perkembangan linguistik pada saat ini sangatlah pesat. Dalam perkembangannya, terutama yang berhubungan dengan aliran linguistik, tentu saja akan menimbulkan masalah-masalah dalam linguistik atau yang berkaitan dengan linguistik. Berawal dari permasalahan-permasalahan tersebut, banyak sekali ilmuwan yang mengemukakan ide-idenya tentang cara memahami lingusitik lebih lanjut. Namun tanpa pengetahuan yang memadai mengenai linguistik, tentu saja akan banyak kendala dalam memahaminya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hakikat dan objek kajian linguistik merupakan pintu masuk untuk mendalami aliran-aliran linguistic.Secara umum, perkembangan kajian linguistik tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan penelitian yang telah dihasilkan serta munculnya bermacam gerakan dan aliran. Perkembangan teori-teori tersebut merata pada berbagai cabang-cabang linguistik, seperti pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, juga pragmatik. Bukan itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari perkembangan teori tersebut juga menjadi lahirnya teori baru, sehingga penelitian yang dihasilkan tidak terlepas dari gerakan dan aliran yang memayungi dunia linguistik.
Kata kunci: perkembangan, aliran, linguistik.
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Keberadaan bahasa merupakan keniscayaan bagi manusia, karena
bahasa merupakan salah satu pembeda antara hewan dan manusia. Hal ini
dikarenakan, hanya manusialah yang memiliki bahasa. Jadi, sudah seharusnya
disyukuri apa yang telah dikaruniakan oleh Sang pencipta. .
Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi berbagai aliran dan paham yang dari Pencipta kepada kita, yaitu bahasa. luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan terutama bagi para pemula (Chaer, 2003:332). Sejarah linguistik yang sangat panjang telah melahirkan berbagai aliran-aliran linguistik. Masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa, tapi pada prinsipnya aliran tersebut merupakan penyempurnaan dari aliran-aliran sebelumnya. Oleh karena itu, dengan mengenal dan memahami aliran-aliran tersebut akan menjadi pedoman bagi setiap orang untuk dapat memilih atau mengacu kepada aliran linguistik apa yang menurutnya baik. Dalam makalah ini akan dipaparkan sejarah perkembangan aliran-aliran linguistik secara singkat dan bersifat umum.
Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi berbagai aliran dan paham yang dari Pencipta kepada kita, yaitu bahasa. luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan terutama bagi para pemula (Chaer, 2003:332). Sejarah linguistik yang sangat panjang telah melahirkan berbagai aliran-aliran linguistik. Masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa, tapi pada prinsipnya aliran tersebut merupakan penyempurnaan dari aliran-aliran sebelumnya. Oleh karena itu, dengan mengenal dan memahami aliran-aliran tersebut akan menjadi pedoman bagi setiap orang untuk dapat memilih atau mengacu kepada aliran linguistik apa yang menurutnya baik. Dalam makalah ini akan dipaparkan sejarah perkembangan aliran-aliran linguistik secara singkat dan bersifat umum.
B. RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya,
maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : .
1. Bagaimanakah aliran-aliran linguistik di indonesia?
1. Bagaimanakah aliran-aliran linguistik di indonesia?
2.
Bagaimanakah perkembangan linguistik di Indonesia?
C. KAJIAN
PUSTAKA
Berdasarkan penelurusan penulis, ditemukan ada dua makalah
yang relevan. Pertama, makalah yang ditulis oleh Dr. Kamal Yusuf berjudul
”Perkembangan Linguistik di Indonesia Hingga Akhir 90-an” (Paradigma, Tendensi,
Aliran, dan Gerakan). Yusuf beranggapan bahwa linguistik dewasa ini berkembang
dengan pesat. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan
penelitian yang telah dihasilkan, serta munculnya bermacam gerakan dan aliran.
Perkembangan teori-teori tersebut merata pada berbagai cabang-cabang
linguistik, seperti pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik,
juga pragmatik. Bukan itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari
perkembangan teori tersebut pula semarak dan tumbuh bak jamur di musim hujan.
Perkembangan teori dan makin banyaknya penelitian yang dihasilkan itu tidak
terlepas dari gerakan dan aliran yang memayungi dan menyemarakkan dunia
linguistik.
D. KAJIAN TEORI
A. Linguistik
Linguistik berarti ”ilmu bahasa”. Kata linguistik berasal
dari kata Latin Lingua yang berarti ’bahasa’. Dalam bahasa-bahasa ”Roman”
(yaitu bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa Latin) masih ada kata-kata serupa
dengan lingua Latin itu, yaitu langue dan langage dalam bahasa Prancis, dan
lingua dalam bahasa Italia. Bahasa Inggris mengambil dari bahasa Prancis kata
yang kini menjadi language. Istilah linguistic dalam bahasa Inggris berkaitan
dengan language. Seperti dalam bahasa Prancis istilah lingustique berkaitan
dengan langage, sedangkan dalam bahasa Indonesia ”linguistik” adalah nama
bidang ilmu, dan kata sifatnya adalah ”linguistis” atau ”Linguistik” (Verhaar,
2001:3). Selanjutnya, Verhaar (2001:3) menyebutkan bahwa dalam bahasa Indonesia
ahli linguistik disebut ”linguis”, yang dipinjam dari kata Inggris linguist
yang berarti ’seorang yang fasih dalam berbagai bahasa’. Ilmu linguistik sering
disebut ”linguistik umum”. Artinya, ilmu linguistik tidak hanya menyelidiki
salah satu bahasa saja (seperti bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), tetapi
menyangkut bahasa secara umum Bagi linguis, pengetahuan yang luas tentang
linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan dan melaksanakan
tugasnya. Seorang linguis dituntut untuk dapat menjelaskan berbagai gejala
bahasa dan memprediksi gejala berikutnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat
sastra, linguistik akan membantu mereka dalam memahami karya-karya sastra
dengan lebih baik. Bagi guru bahasa pengetahuan tentang seluruh subdisiplin
linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) akan diperlukan.
Sebagai guru bahasa, selain dituntut untuk mampu berbahasa dengan baik dan
benar, mereka juga dituntut untuk dapat menjelaskan masalah dan gejala-gejala
bahasa. Pengetahuan tentang linguistik akan menjadi bekal untuk melaksanakan
tugas tersebut.
B. Sejarah Linguistik
Chaer
(2003:332) menyebutkan bahwa studi linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan,
yaitu dari tahap pertama disebut tahap spekulasi, tahap kedua disebut tahap
observasi dan klasifikasi, dan tahap ketiga adalah disebut dengan tahap
perumusan teori. Pada tahap spekulasi, pernyataan-pernyataan tentang bahasa
tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan
belaka. Pada tahap klasifikasi dan observasi, para ahli bahasa mengadakan
pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum
sampai pada perumusan teori. Karena itu, pekerjaan mereka belum dapat dikatakan
bersifat ilmiah. Penyelidikan yang bersifat ilmiah baru dilakukan orang pada
tahap ketiga, dimana bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan
diklasifikasi, tetapi juga telah dibuatkan teori-teorinya. Dalam sejarah
perkembangannya, linguistik dipenuhi berbagai aliran dan paham yang dari luar
tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan terutama bagi para
pemula (Chaer, 2003:332). Sejarah linguistik yang sangat panjang telah
melahirkan berbagai aliran-aliran linguistik. Masing-masing aliran tersebut
memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa, tapi pada prinsipnya
aliran tersebut merupakan penyempurnaan dari aliran-aliran sebelumnya.
C. Model Penelitian
C. Model Penelitian
Model penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah
model deskriptif. Dikatakan deskriptif, karena mendeskripsikan data yang
dianalisis berupa aliran-aliran linguistik baik yang ada di dunia barat, maupun
perkembangan linguistik di Indonesia.
Model
kualitatif digunakan untuk menguraikan konsep-konsep pemahaman yang berkaitan
satu sama lain yang disampaikan secara verbal dan berpedoman pada teori-teori
linguistik yang relevan dengan aliran-aliran linguistik itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
1.Aliran-Aliran Linguistik di Indonesia
a. Linguistik Tradisional
Istilah tradisional sering dipertentangkan dengan istilah
struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa
tradisional dan tata bahasa struktural. Kedua jenis tata bahasa ini banyak
dibicarakan sebagai dua hal yang bertentangan, sebagai akibat dari pendekatan
keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa. Tata bahasa tradisional
menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa
struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam bahasa
tertentu. Dalam merumuskan kata kerja, misalnya, tata bahasa tradisional
mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian,
sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat
berdistribusi dengan frase ”dengan....” (Chaer, 2003:333).
Terbentuknya tata bahasa tradisional telah melalui masa yang sangat panjang, dari zaman ke zaman, mulai zaman Yunani sampai menjelang munculnya linguistik modern sekitar akhir abad ke-19.
Terbentuknya tata bahasa tradisional telah melalui masa yang sangat panjang, dari zaman ke zaman, mulai zaman Yunani sampai menjelang munculnya linguistik modern sekitar akhir abad ke-19.
(1) Linguistik Zaman Yunani
Studi bahasa pada zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat
panjang, yaitu dari lebih kurang abad ke-5 SM. Sampai abad ke-2 M. Jadi kurang
lebih sekitar 600 tahun. Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan
pada waktu itu adalah (1) pertentangan antara fisis dan nomos, dan (2)
pertentangan antara analogi dan anomali (Chaer, 2003:333). .
Fisis (alami) mempunyai prinsip abadi dan tidak dapat diubah dan ditolak, sedangkan nomos (konvensi) beranggapan bahwa bahasa bersifat konvensi, makna dari sebuah kata diperoleh dari hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.
Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Keteraturan bahasa itu tampak, misalnya dalam bahasa Inggris : Boy-Boys. Sebaliknya, kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Ini dibuktikan dengan kata dalam bahasa Inggris child menjadi children, bukannya childs (Chaer, 2003:334). Dari studi bahasa kaum Yunani dikenal nama beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa, yaitu kaum Sophis, Plato, Aristoteles, Kaum Stoik, dan kaum Alexandrian. Kaum Sophis melakukan kerja empiris, menggunakan ukuran tertentu, mementingkan retorika dalam studi, dan membedakan kalimat berdasarkan isi dan makna. Salah seorang tokoh Sophis adalah Protogaros. Protogaros membagi kalimat menjadi: kalimat tanya, jawab, perintah, laporan, doa, dan undangan. Tokoh lain, Georgias, membicarakan gaya bahasa. Plato dalam studi bahasa terkenal, karena memperdebatkan analogi dan anomaly, membuat batasan bahasa, bahwa bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara onomata dan rhemata, dan membedakan kata dalam onoma (nama dalam bahasa sehari-hari dan nomina/atau nominal dalam tata bahasa, dan subjek) dan rhema (ucapan dalam bahasa sehari-hari, verba dalam tata bahasa, dan predikat).
Fisis (alami) mempunyai prinsip abadi dan tidak dapat diubah dan ditolak, sedangkan nomos (konvensi) beranggapan bahwa bahasa bersifat konvensi, makna dari sebuah kata diperoleh dari hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.
Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Keteraturan bahasa itu tampak, misalnya dalam bahasa Inggris : Boy-Boys. Sebaliknya, kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Ini dibuktikan dengan kata dalam bahasa Inggris child menjadi children, bukannya childs (Chaer, 2003:334). Dari studi bahasa kaum Yunani dikenal nama beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa, yaitu kaum Sophis, Plato, Aristoteles, Kaum Stoik, dan kaum Alexandrian. Kaum Sophis melakukan kerja empiris, menggunakan ukuran tertentu, mementingkan retorika dalam studi, dan membedakan kalimat berdasarkan isi dan makna. Salah seorang tokoh Sophis adalah Protogaros. Protogaros membagi kalimat menjadi: kalimat tanya, jawab, perintah, laporan, doa, dan undangan. Tokoh lain, Georgias, membicarakan gaya bahasa. Plato dalam studi bahasa terkenal, karena memperdebatkan analogi dan anomaly, membuat batasan bahasa, bahwa bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara onomata dan rhemata, dan membedakan kata dalam onoma (nama dalam bahasa sehari-hari dan nomina/atau nominal dalam tata bahasa, dan subjek) dan rhema (ucapan dalam bahasa sehari-hari, verba dalam tata bahasa, dan predikat).
Aristoteles membagi kata dalam tiga kelas kata, yaitu anoma,
rhema, dan syndesmoi. Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas
dalam hubungan sintaksis. Syndesmoi itu lebih kurang sama dengan preposisi dan
konjungsi yang sekarang kita kenal. Aristoteles juga membedakan jenis kelamin
kata (gender) menjadi tiga, yaitu maskulin, feminin, dan neutrum. Kaum Stoik
adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke-4 SM.
Dalam studi bahasa kaum stoik, terdapat kajian yang terkenal, antara lain
karena:
(1)
membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa,
(2)
menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa,
(3)
membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa, yaitu : 1) tanda, simbol,
sign, atau semainon, 2) makna, apa yang disebut smainomen/lekton, 3) hal-hal di
luar bahasa yakni benda-benda atau situasi, (4) membedakan legein, yaitu bunyi
yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu
ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna, (5) membagi jenis kata menjadi empat
yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron yaitu kata-kata yang
menyatakan jenis kelamin dan jumlah, dan (6) membedakan kata kerja komplek dan
kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.
Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam studi bahasa.
Kaum ini menciptakan buku Dionysius Thrax yang menjadi cikal bakal tata bahasa
tradisional. Semasa dengan zaman Alexandrian, di India hidup seorang sarjana
Hindu yang bernama Panini, telah menyusun kurang 4.000 pemerian tentang
struktur bahasa Sansekerta dengan prinsip-prinsip dan gagasan yang masih
dipakai linguistik modern. Karena itulah Panini dianggap sebagai one of
greatest monuments of the human intelligence oleh Leonard Bloomfield. .
(2) Linguistik Zaman Romawi
(2) Linguistik Zaman Romawi
Zaman Romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh
pada zaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116-27 SM) dengan karyanya,
De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.
Varro dalam bukunya yang berjudul De Lingua Latina masih
membahas masalah analogi dan anomali seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku
De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang
etimologi, morfologi, sintaksis.
Tata bahasa Priscia dianggap sangat penting karena merupakan
buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya dan
teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa
secara tradisional. Segi yang dibicarakan dari buku itu adalah: (1) fonologi
dibicarakan mengenai huruf/tulisan yang disebut literae/bagian terkecil dari
bunyi yang dapat dituliskan, (2) morfologi dibicarakan mengenai dictio/atau
kata, (3) sintaksis dibicarakan mengenai oratio yaitu tata susunan kata yang
berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai. Buku Institutiones Grammaticae
ini telah menjadi dasar tata bahasa Latin dan filsafat zaman pertengahan
(Chaer, 2003:341).
(3) Linguistik Zaman Pertengahan
(3) Linguistik Zaman Pertengahan
Studi bahasa pada zaman pertengahan mendapat perhatian penuh
terutama oleh para filsuf skolastik. Pada zaman pertengahan ini, yang patut
dibicarakan dalam studi bahasa antara lain adalah peranan Kaum Modistae, Tata
Bahasa Spekulativa, dan Petrus Hispanus (Chaer, 2003: 341). Kaum Modistae
menerima analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat reguler dan
universal. Mereka memperhatikan secara penuh akan semantik sebagai penyebutan
definisi bentuk-bentuk bahasa, dan mencari sumber makna, maka dengan demikian
berkembanglah bidang etimologi pada zaman itu. Tata Bahasa Spekulativa
merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin ke dalam filsafat
skolastik. Menurut Tata Bahasa Spekulativa, kata tidak secara langsung mewakili
alam dari benda yang ditunjuk. Petrus Hispanus, memasukkan psikologi dalam
analisis makna bahasa, membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantivum
dan nomen edjektivum, membedakan semua bentuk yang menjadi subjek/predikat dan bentuk
tutur lainnya.
(4) Zaman Renaisans
(4) Zaman Renaisans
Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad
pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman
renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat. 1) Sarjana-sarjana pada waktu
itu menguasai bahasa Latin, Ibrani, dan Arab, 2) Bahasa Eropa lainnya juga
mendapat perhatian dalam bentuk pembahasaan, penyusunan tata bahasa, dan
perbandingan.
(5)
Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Masa antara lahirnya linguistik modern dengan masa berakhirnya
zaman renaisans terdapat satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi
bahasa. Tonggak yang sangat penting itu adalah dinyatakannya adanya hubungan
kekerabatan antara bahasa Sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin, dan
bahasa Jerman lainnya yang telah membuka babak baru sejarah linguistik, yakni
dengan berkembangnya studi linguistik bandingan atau linguistik historis
komparatif, serta studi mengenai hakekat bahasa secara linguistik terlepas dari
masalah filsafat Yunani Kuno.
Bila disimpulkan, pembicaraan mengenai linguistik tradisional dapat dikatakan bahwa:
1) Pada tata bahasa tradisional ini, tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada tulisan.
2) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin.
Bila disimpulkan, pembicaraan mengenai linguistik tradisional dapat dikatakan bahwa:
1) Pada tata bahasa tradisional ini, tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada tulisan.
2) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin.
3)
Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara perspektif, yakni benar atau salah.
4)
Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.
5)
Penemuan-penemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan (Chaer,
2003:345).
b. Linguistik Strukturalis
b. Linguistik Strukturalis
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu
bahasa berdasarkan ciri yang dimiliki bahasa itu. Pandanga ini adalah sebagai
akibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa yang
dikemukakan oleh Bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand de Saussure (Chaer,
2003:346).
(1) Ferdinand de Saussure
(1) Ferdinand de Saussure
Ferdinand de Saussure (1857-1913) dianggap sebagai Bapak
Linguistik Modern, berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya
Course de Lisguestique General yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally
dan Alberty Sechehay tahun 1915. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut
mengenai konsep: 1) telaah sinkronik
(mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja) dan diakronik (telaah
bahasa sepanjang masa), 2) perbedaan langue dan parole. Langue yaitu
keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara
para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan parale
sifatnya konkret karena parole tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda
dari yang satu dengan orang lain, 3) membedakan signifiant dan signifie.
Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam
alam pikiran (bentuk), signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada
dalam pikiran kita (makna), 4) Hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Hubungan
sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu
tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan paradigmatik
adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan
unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan (Chaer,
2003:346). .
(2) Aliran Praha
(2) Aliran Praha
Aliran
Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya, yaitu
Vilem Mathesius (1882-1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikolai S. Trubetskoy,
Roman
Jakobson, dan Morris Halle.
Sumbangan aliran ini dalam dalam bidang fonologis (mempelajari fungsi bunyi
tersebut dalam suatu sistem) dan bidang sintaksis dengan menelaah kalimat
melalui pendekatan fungsional. Dalam bidang fonologi aliran praha inilah yang
pertama membedakan dengan tegas fonetik dan fonologi.
(3) Aliran Glosematik
(3) Aliran Glosematik
Aliran Glosematik lahir di Denmark. Tokohnya Louis Hjemslev
yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Namanya menjadi terkenal setelah
usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas
dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis, dan terminologis sendirian.
(4) Aliran Firthian
(4) Aliran Firthian
Nama John R. Firth (1890-1960) terkenal karena teorinya
mengenai fonologi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan
arti pada tataran fonetis.
(5)
Linguistik Sistematik .
Nama aliran linguistik sistematik tidak dapat dilepaskan
dari nama M.A.K Halliday, yaitu salah seorang murid Firth yang mengembangkan
teori Firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi
kemasyarakatan bahasa. Teori yang dikembangan Halliday adalah sistemic
linguistics (SL). Pokok pandangan aliran ini adalah:
- SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.
- SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.
-
SL memandang bahasa sebagai pelaksana.
-
SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya.
-
SL mengenal adanya gradasi/kontinum.
-
SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa.
(6)
Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
Nama Leonard Blommfield (1877-1949) sangat terkenal dengan
bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933), dan selalu
dikaitkan dengan aliran struktural Amerika. Aliran strukturalis yang
dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran
taksonomi dan aliran bloomfieldian. Disebut aliran Bloomfield karena bermula
dari gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini
menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan
hierarkinya. Aliran strukturalis menekankan pentingnya data yang objektif untuk
memerikan suatu bahasa. Pendekatannya bersifat empirik. Data yang dikumpulkan
secara cermat. Bentuk-bentuk satuan bahasa diklasifikasikan berdasarkan
distribusinya. .
(7) Aliran Tagmemik
(7) Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike yang mewarisi pandangan
Bloomfield. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem
(susunan). Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja. Seperti
subjek + predikat + objek dan tidak dapat dinyatakan dengan bentuk-bentuk saja,
seperti frase benda + frase kerja + frase benda, melainkan harus diungkapkan
kesamaan dan rentetan rumus seperti:
S
: FN + P : FN + O : FN
Fungsi
subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh
frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.
c.
Linguistik Transformasional
Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan
yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, terus berkembang sesuai
dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang
hakiki. Kemudian, orang pun merasa bahwa model struktural itu banyak
kelemahannya, sehingga orang mencoba merevisi model struktural. Berikut
model-modelnya.
(1) Tata Bahasa Transformasi
(1) Tata Bahasa Transformasi
Tata bahasa transformasi berusaha mendeskripsikan ciri-ciri
kesemestaan bahasa. Lalu karena pada mulanya teori tata bahasa ini dipakai
untuk mendeskripsikan kaidah-kaidah bahasa Inggris, maka kemudian ketika para
pengikut teori ini mencoba untuk menggunakannya terhadap bahasa-bahasa lain,
timbullah berbagai masalah. Apa yang tadinya sudah dianggap universal ternyata
tidak universal. Oleh karena itu, usaha perbaikan mulai dilakukan. Tokoh dalam
tata bahasa transformasi adalah Noam Chomsky dengan judul bukunya yang
terkenal, yaitu Syntactic Structure, terbit tahun 1957. Menurut Chomsky, salah
satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari
bahasa tersebut. Tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat sebagai berikut :
-
Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai
bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
- Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
- Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
(2)
Semantik Generatif .
Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama, karena keduanya adalah satu. Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain: Postal, Lakoff, Mc Cawly, dan Kiparsky. .
(3) Tata Bahasa Kasus
Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama, karena keduanya adalah satu. Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain: Postal, Lakoff, Mc Cawly, dan Kiparsky. .
(3) Tata Bahasa Kasus
Tata
bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J.
Fillmore dalam karangannya berjudul ”The Case for Case” tahun 1968. Dalam
karangannya yang terbit tahun 1968 itu, Fillmore membagi kalimat atas: (1)
modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2)
proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.
(4) Tata Bahasa Relasional
(4) Tata Bahasa Relasional
Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai
tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori
sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh
aliran ini antara lain adalah : David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Tata
bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena
menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain
selain bahasa Inggris. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa
terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga
macam wujud, yaitu: 1) seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan
elemen-elemen di dalam suatu struktur; 2) Seperangkat tanda relasional
(relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh
elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain; dan 3) seperangkat
"coordinates" yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang
manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen
yang lain.
2. Perkembangan Linguistik di Indonesia
2. Perkembangan Linguistik di Indonesia
Sebagai
bangsa yang sangat luas, Indonesia sudah lama menjadi kajian penelitian linguis. Para pemerintah kolonial
mempelajari bahasa untuk menguasai pemerintahan dan sebagai media penyebaran
agama Nasrani. Pada zaman itu, penelitian tentang bahasa masih bersifat
observasi dan klasifikasi. Buku yang dibuat Bibliographical Series dari
Institut voor Taal, Land, en Volkenkunde Belanda, oleh (Teeuw:1961,
Uhlenbeck:1964). .
Sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika, seperti Anton M. Moeliono dan T.W. Kamil, mulai diperkenalkan konsep fonem, morfem, frase dan klausa dalam pendidikan formal linguistik di Indonesia. Sebelumnya, konsep-konsep tersebut belum dikenal. Yang dikenal hanyalah satuan kata dan kalimat.
Perkenalan dengan konsep-konsep linguistik modern ini bukanlah tanpa menimbulkan pertentangan. Konsep linguistik modern yang melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima para guru besar dan pakar bahasa. Konsep modern menganggap bentuk merubah = mengubah, karena hal itu terdapat dalam bahasa masyarakat sehari-hari. Padalah bentuk merubah adalah bentuk yang salah.
Sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika, seperti Anton M. Moeliono dan T.W. Kamil, mulai diperkenalkan konsep fonem, morfem, frase dan klausa dalam pendidikan formal linguistik di Indonesia. Sebelumnya, konsep-konsep tersebut belum dikenal. Yang dikenal hanyalah satuan kata dan kalimat.
Perkenalan dengan konsep-konsep linguistik modern ini bukanlah tanpa menimbulkan pertentangan. Konsep linguistik modern yang melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima para guru besar dan pakar bahasa. Konsep modern menganggap bentuk merubah = mengubah, karena hal itu terdapat dalam bahasa masyarakat sehari-hari. Padalah bentuk merubah adalah bentuk yang salah.
Kridalaksana dalam bukunya Pembentukan Kata Bahasa Indonesia
(1989), mempertanyakan akhiran –in seperti pd kata abisin dan awalan –nge
(ngebantu) termasuk afiks bahasa Indonesia? Padahal, itu adalah bentuk yang
salah, sehingga tidak seharusnya dimuat dalam buku.Perkembangan waktu yang
kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima, dan
konsep-konsep linguistik tradisional mulai agak tersisih. Awal tahun tujuh
puluhan, dengan terbitnya buku Tata Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf,
perubahan sikap terhadap linguistik modern mulai banyak terjadi. Buku Tata
Bahasa Baru Bahasa Indonesia karangan Sutan Takdir Alisjahbana, yang sejak tahun
1947 banyak digunakan orang dalam pendidikan formal, mulai ditinggalkan.
Kedudukannya diganti oleh buku Keraf, yang isinya memang banyak menyodorkan
kekurangan-kekurangan tata bahasa tradisional, dan menyajikan
kelebihan-kelebihan analisis bahasa secara struktural (Chaer,
2003:379).Datangnya guru besar Prof. Verhaar dari Belanda, menjadikan studi
linguistik terhadap bahasa daerah dan nasional Indonesia semakin marak. Sejalan
dengan perkembangan studi linguistik, pada tanggal 15 November 1975 dibentuk
MLI (Masyarakat Linguistik Indonesia), sebagai wadah berdiskusi, bertukar
pengalaman, dan publikasi penelitian. MLI mengadakan Musyawarah Nasional tiap
tiga tahun sekali untuk membicarakan masalah organisasi dan linguistik. MLI
menerbitkan jurnal Linguistik Indonesia mulai tahun 1983 untuk laporan dan
publikasi penelitian. Penyelidikan terhadap bahasa daerah banyak dilakukan oleh
orang luar Indonesia. Kajian terhadap bahasa Jawa dipelajari oleh Uhlenbeck.
Voorhove, Teeuw, Rlvink, dan Grijns dengan kajian bahasa Jakarta. Serta Robins
(London) dengan kajian bahasa Sunda. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa
nasional, bahasa Indonesia menduduki sentral dalam kajian linguistik dewasa
ini. Dalam kajian bahasa Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana,
Kaswanti Purwo, Darjdowidjojo, dan Soedarjanto yang telah menghasilkan tulisan
berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia (Chaer, 2003:381).
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan makalah pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut
: .
1. Linguistik di barat terdapat tiga aliran, yaitu : tradisional, struktural, dan transformasional.
a. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik. Dalam merumuskan kata kerja, misalnya, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian.
1. Linguistik di barat terdapat tiga aliran, yaitu : tradisional, struktural, dan transformasional.
a. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik. Dalam merumuskan kata kerja, misalnya, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian.
b. Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu
bahasa berdasarkan ciri yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini adalah sebagai
akibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa yang
dikemukakan oleh Bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand de Saussure. Selain
Ferdinand de Saussure, dalam aliran linguistik struktural terdapat pula aliran
praha, aliran glosematik, aliran firthin, aliran linguistik sistematik, Leonard
Bloomfield, dan aliran tagmemik.
c. Linguistik Transformasional. Dalam aliran ini dikenal
tata bahasa transformasi, semantik generatif, tata bahasa kasus, dan tata
bahasa relasional.
2. Studi tentang linguistik di Indonesia sampai saat ini belum ada catatan lengkap, meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup. Moeliono, T.W. Kamil, Gorys Keraf, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Verhaar. Dalam kajian bahasa Indonesia, tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjdowidjojo, dan Soedarjanto .
2. Studi tentang linguistik di Indonesia sampai saat ini belum ada catatan lengkap, meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup. Moeliono, T.W. Kamil, Gorys Keraf, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Verhaar. Dalam kajian bahasa Indonesia, tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjdowidjojo, dan Soedarjanto .
B.
SARAN
Penulis menyadari masih banyak
kekurangan dalam penulisan jurnal ini, untuk itu penulis mengharapkan kepada
pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran demi kemajuan penulisan jurnal
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Puspitorini, Dwi.dkk.2005. sebuah
tinjaun pragmatis terhadap profil kebahasaan. Dalam kajian humaniora,vol.9.2,
desember 2005 : (46-56)
Miles, Matthew B., dkk. 1992.
Analisis Data Kualitatif, Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Terjemahan
Tcecep Rohendi Rohidi, Jakarta: Universitas Indonesia Press .
Soeparno. 2003. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Soeparno. 2003. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Verhaar, J.W.M. 2001. Asas-asas
Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press .
No comments:
Post a Comment