BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Semua agama yang diturunkan Allah S.W.T ke muka bumi (agama
wahyu) menempatkan tauhid ditempat yang pertama dan utama, karena itu setiap
Rasul yang diutus Allah mengembangkan tugas untuk menanamkan tauhid ke dalam
jiwa umatnya. Mengajak kepadanya, melarang mereka menyekutukan Allah dalam
bentuk apapun, baik zat, sifat maupun af’alnya.
- Perumusan Masalah
Dalam makalah yang berjudul “aliran Murjiah” ini penulis
mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
- Bagaimana asal-usul kemunculan
murji’ah
- Apa pokok ajaran Murji’ah
- Bagaimana sekte-sekte yang ada
di aliran Murji’ah
- Tujuan Penulisan
Setiap penulisan pasti mempunyai tujuan, dan tujuan tersebut
harus dicapai, adapun pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
- Mengetahui asal-usul pokok
ajaran murjiah
- Mengetahui pokokpokok ajaran
aliran murjiah
- Mengetahui sekte yang ada di
aliran murjiah
BAB II
ALIRAN MURJI’AH
- Asal-usul kemunculan aliran
murji’ah
Nama murji’ah diambil dari kata irja
atau Arja’a yang bermakna penundaan penangguhan dan pengharapan, kata arja’a
mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan pada pelaku dosa
besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah, mengemdikan amal dari
iman, oleh karena itu murji;ah artinya orang yang mendunda penjelasan kedudukan
orang yang bersangketa, yakni ali dan muawiyah serta pasukannya masing-masing
di hati kiamat kelak.
Teori murji’ah juga bisa memberikan
pengertian “menangguhkan hukum perbuatan seseorang sampai di hadapan Allah
S.W.T golongan ini memmang berpendapat bahwa muslim yang berbuat dosa besar
tidak di hukum kafir, tetapi tetap mukmin, mengenai dosa itu, bisa pula tidak,
semuanya merupakan urusan Allah SWT, ada beberapa teori yang berkembang
mengenai asal-usul kemunculan murji’ah.
Teori pertama : mengatakan bahwa gagasan irja atau arja dikembangkan oleh
sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam.
Ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari
sekretarianisme, murji’ah, baik sebagai kelompok politik maupun teologis,
diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan syi’ah dan khawarij.
Teori kedua : sebagai gerakan politik yang
diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi tholib, Al-hasan bin Muhammad alhanafiyah,
sekitar tahun 695. Dengan mengangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi
pada konflik sipil pertama yang melibatkan usman, ali dan zubayar (seorang
tokoh pembelot ke makah).
Teori ketiga : menceritakan ketika terjadi
persturuan antara aliran ali dan muawiyah dalam perang shiffin, dilakukan
tahkim/arbitase atas usulan Amr bin Ash, kaki tangan muawiyah, kelompok ali
terpecah menjadi dua kubu, yang pro dan kontra kelompok kontra yaitu golongan
khawarij, menyatakan bahwa tahkim bertentangan dengan al-Qur’an karena tidak
berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa pelaku tahkim
adalah dosa besar. Pendapat ini ditentang oleh sekelompok sahabat yang kemudian
di sebut golongan murji’ah yang menyatakan bahwa pembuat dosa besar adalah
tetap mukmin tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah apakah dia
akan mengampuninya atau tidak.
- Pokok-pokok ajaran murji’ah
Ajaran pokok murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan
atau doktrin irja atau Arja’a yang di aplikasikan dalam banyak persoalan politik
dan teologi, dibidang politik doktrin irja di implementasikan sebagai sikap
politik netral atau non blok. Adapun di bidang teologi. Doktrin irja
dikembangkan ketika menanggapi persoalan yang mencakup iman, kufur dosa besar
dan ringan . tauhid tafsir Al-Qur’an, eskatologi. Pengampunan atas dosa besar.
Kemaksuman Nabi, hukuman atau dosa ada ang kafir di kalangan generasi awal
islam. Tobat haikita Al-Qur’an, nama dan sifat Allah. Serta ketentuan Tuhan.
- Menganggap melakukan maksiat
adalah hal yang biasa tidak mempengaruhi dosa maupun siksa, yang penting
adalah Iman semata kepada Allah. Yang penting masih bersyahadat.
- Meletakkan pentingnya iman
daripada amal
- Menyerahkan keputusan Allah
atas orang muslim yang berdosa besar
- Memberikan pengharapan kepada
muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.
Tokoh-Tokoh Murjiah
Abu Hasan Ash-Shalihi; dan
Jahm bin shofwan
- Sekte-sekte murji’ah
Dalam perkembangan madzhab murji’ah yang samman dan difar
bin umar mengalami perbedaan pendapat dikalangan para pendukung murji’ah
sendiri.
Al-syahrastani membagi kelompok-kelompok murji’ah yang
dikutip watt. Farly islam hal (181) yaitu sebagai berikut:
- Murji’ah kahwarij
- Murji’ah qadariyah
- Murji’ah jabariyah
- Murji’ah murni
- Murji’ suuni (tokohnya adalah
abu hanifah)
Sementara itu, harun nasution membagi dalam 2 sekte yaitu :
- Golongan moderat, dan
- Golongan ekstrim
Murjiah moderat berpendirian bahwa pendosa besar tetap
mukmin, tidak kafir tidak pula kekal di dalam neraka, mereka di siksa sebesar
dosanya, dan bila diampuni oleh Allah sehingga tidak masuk neraka sama sekali.
Iman adalah pengetahuan tentang Tuhan dan rosul-rosulnya, serta apa saja yang
datang darinya secara keseluruhan namun dalam garis besar , iman adalah dalam
hal ini tidak bertambah dan berkurang, penggagas pendirina ini adalah : Al
Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi tholib, abu hanifah, abu yusuf dan beberapa
ahli hadist.
Mrujiah ekstrim di antaranya adalah kelompok-kelompok
sebagai berikut.
- Jahmiyah, kelompok jahm bin
shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada
tuhan kemudian menyatakan kekufurannya, secara lisan, tidaklah menjadi
kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian
yang lain pada tubuh manusia.
- shalihiyah, kelompok abu hasan
ash-shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui tuhan sedangkan
kufur adalah tidak tahu Tuhan, Sholat bukan merupakan ibadah kepada Allah
- yang disebut ibadah adalah iman
kepadanya dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji
bukanlah ibadah melainakkn sebagi gambaran kepatuhan.
Pendapat-pendapat ekstrim seperti
diuraikan di atas menimbulkan pengertian bahwa hanya imanlah yang penting dan
menentukan mukmin atau tidaknya mukminnya seseorang. Perbuatan-perbuatan tidak
mempunyai pengaruh dalam hal ini. Karena yang penting ialah iman dalam hati,
ucapan dan perbuatan tidak merusak iman.
Ajaran serupa ini ada bahayanya
karena dapat memperlemah ikatan moral yang akan mengakibatkan adanya masyarakat
permissive, masyarakat yang dapat mentolelir penyimpanagan dari norma akhlak
yang berlaku, karena yang dipentingkan hanyalah iman, norma akhlak kurang
penting dan diabaikan, inilah keihatannya yang menjadi penyebab kurang baik dan
kurang disenangi dari ajaran aliran Murji’ah.
Tetapi pendapat dari golognan
murji’ah moderat , sesuai dengan pendapat dari golongan Asy’ariyah atau
golongan ASWAJA , iman adalah pengakuan dalam hati tentang ke esaan Allah dan
tentang kebenaran Rasulullah serta segala apa yang merreka bawa menguapkan
dengan lisan dan mengerjakan rukun islam hanya merupakan cabang iman. Pelaku
dosa besar jika meninggal dunia tanpa taubat, ada kemungkinan diampuni tetapi
tidak ada pula tidak akan diampuni, tetapi akan di siksa dahulu di neraka.
Golongan murji’ah moderat, sebagai
golonga yang berdiri sendiri telah hilang dalam sejarah, tetapi ajaran mereka
tentang iman, kufur, dan dosa besar masuk ke dalam aliran ASWAJA, adapaun
golongan murji’ah ekstrim juga telah hilang tetapi dalam prakteknya, secara tak
sadar banyak umat manusia yang mengikuti ajaran aliran murji’ah ekstrim.
DAFTAR PUSTAKA
Zuhri, Amat. Warna-warni teologi Islam (Ilmu Kalam)
cet.ke 5. (Pekalongan:STAIN Press). 2011.
Nasution, Harun. Teologi islam Aliran-Aliran sejarah
Analisa Perbandingan. (jakarta:UI-Press).2010
No comments:
Post a Comment