Wednesday, 13 May 2015

Lirik Lagu Ariana Grande ft Nathan Sykes_Almost Is Never Enough

ARIANA GRANDE:
I'd like to say we 
gave it a try
(Kuingin katakan kita tlah mencobanya)
I'd like to blame it all on life
(Kuingin salahkan semua ini pada hidup)
Maybe we just weren't right
(Mungkin kita memang tak cocok)
But that's a lie
(Tapi itu dusta )
That's a lie
(Itu dusta belaka)

II
And we can deny it as much as we want
(Dan kita bisa menyangkalnya semau kita)
But in time our feelings will show
(Tapi waktu kan tunjukkan perasaan kita)
Cause sooner or later
(Karena cepat atau lambat)
We'll wonder why we gave up
(Kita kan bertanya-tanya mengapa dulu kita menyerah)
But truth is, everyone knows
(Tapi kenyataannya, semua orang tahu)

CHORUS
Oh, almost, 
almost is never enough
(Oh, hampir, hampir tidaklah cukup)
So close to being in love
(Begitu nyaris jatuh cinta)
If I would have known that you wanted me
(Andai kutahu kau dulu inginkanku)
The way I wanted you
(Seperti pula aku menginginkanmu)
Maybe we wouldn't be two world apart
(Mungkin kita takkan berpisah)
But right here in each others arms
(Tapi di sini saling berpelukan)
Well we almost, we almost knew what love was
(Kita hampir, kita hampir tahu apa itu cinta)
But almost is never enough
(Tapi hampir tidaklah cukup)

NATHAN SYKES:
If I could change the world overnight
(Andai bisa kuubah dunia dalam semalam)
There'd be no such thing as goodbye
(Takkan ada yang namanya perpisahan)
You'll be standing right where you were
(Kau masih kan berdiri di tempatmu dulu)
And we'd get the chance we deserve
(Dan kita kan dapatkan kesempatan yang seharusnya)

Try to deny it as much as you want
(Cobalah kau sangkal semaumu)
But in time our feelings will show
(Tapi waktu kan tunjukkan perasaan kita)
Cause sooner or later
(Karena cepat atau lambat)
We'll wonder why we gave up
(Kita kan bertanya-tanya mengapa dulu kita menyerah)
The truth is everyone knows
(Kenyataannya, semua orang tahu)

CHORUS

Oh, oh baby, you know, you know baby
(Oh, oh kasih, kau tahu, kau tahu kasih)
Almost, is never enough baby
(Hampir tidaklah cukup kasih)
You know
(Kau tahu)

Back to II
CHORUS

Oh, oh baby, you know, you know baby
(Oh, oh kasih, kau tahu, kau tahu kasih)
Almost, is never enough baby
(Hampir tidaklah cukup kasih)
You know
(Kau tahu)


Lirik Lagu Beautiful In White_westlife

Beautiful In White | Westlife
Not sure if you know this
Tak yakin apakah kau tahu ini
But when we first met
Tapi saat pertama kita berjumpa
I got so nervous 
I couldn't speak
Aku sangat grogi hingga tak dapat berkata apa-apa
In that very moment
Pada saat itu
I found the one and
Kutemukan seseorang dan
My life had found its missing piece
Hidupku tlah temukan kepingannya yang hilang

CHORUS
So as long as I live I love you
Maka selama aku masih hidup, aku kan mencintaimu
Will have and hold you
Aku kan miliki dan mendekapmu
You look so beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih
And from now to my very last breath
Dan mulai kini hingga hembusan nafas terakhirku
This day I'll cherish
Hari ini kan kukenang
You look so 
beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih
Tonight
Malam ini

What we have is time
Yang kita punya adalah waktu

My love is endless
Cintaku tak lekang oleh waktu
And with this ring I
Dan dengan cincin ini aku
Say to the world
Kukatakan pada dunia
You're my every reason
Engkaulah alasanku
You're all that I believe in
Engkaulah yang kupercayai
With all my heart I mean every word
Dengan sepenuh hatiku, tiap kataku ini yang sebenarnya

CHORUS

oooh oh
You look so beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih

Na na na na

So 
beautiful in white
Sangat cantik berpakaian putih
Tonight
Malam ini

And if our daughter's what our future holds
Dan jika anak perempuan kita akan hadir
I hope she has your eyes
Kuharap matanya seperti matamu
Finds love like you and I did
Temukan cinta sepertimu dan kulakukan
Yeah, I wish she falls in love and I will let her go
Yeah, kuharap dia kan jatuh cinta dan kan kulepaskan dia
I'll walk her down the aisle
Kan kuiringi dia di lorong gereja
She'll look so beautiful in white
Dia kan tampak sangat cantik berpakaian putih

You look so beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih

CHORUS

You look so 
beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih
Tonight
Malam ini


Sunday, 3 May 2015

Makalah Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum

BAB II
PEMBAHASAN
A.   Langkah - Langkah Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai perangkat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan, khususnya kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari perlu dipikirkan pengalaman apa yang diperlukan oleh siswa untuk memenuhi kebutuhan tersebut
Dalam pengembangannya, kurikulum melibatkan berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung memiliki kepentingan dengan keberadaan pendidikan yang dirancang, yaitu mulai dari ahli pendidikan, ahli bidang studi, guru, siswa, pejabat pendidikan, para praktisi maupun tokoh panutan atau anggota masyarakat lainnya.
Menurut Taba apabila seseorang memahami perkembangan kurikulum sebagai tugas yang membutuhkan keteraturan, maka harus diketahui aturan ketika keputusan dibuat dan bagaimana cara keputusan-keputusan tersebut dibuat, untuk memastikan bahwa semua pertimbangan yang relevan telah tercakup dalam keputusan-keputusan tersebut.
Perkembangan kurikulum merupakan proses pembuatan keputusan yang terencana dan untuk merevisi produk dari keputusan tersebut berdasar pada evaluasi berkelanjutan. Sebuah model dapat mengatur proses.
Pengembangan kurikulum meliputi empat langkah, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran (instructional objective), menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar (selection of learning experiences), mengorganisasi pengalaman-pegalaman belajar (organization of learning experiences), dan mengevaluasi (evaluating).
1.      Merumuskan Tujuan Pembelajaran (instructional objective)
Terdapat tiga tahap dalam merumuskan tujuan pembelajaran.
v  Tahap yang pertama yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah memahami tiga sumber, yaitu siswa (source of student), masyarakat (source of society), dan konten (source of content).
v  Tahap kedua adalah merumuskan tentative general objective atau standar kompetensi (SK) dengan memperhatikan landasan sosiologi (sociology), kemudian di-screen melalui dua landasan lain dalam pengembangan kurikulum yaitu landasan filsofi pendidikan (philosophy of learning) dan psikologi belajar (psychology of learning).
v  Tahap ketiga adalah merumuskan precise education atau kompetensi dasar (KD).
2.      Merumuskan dan Menyeleksi Pengalaman-Pengalaman Belajar (selection of learning experiences)
Dalam merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam pengembangan kurikulum harus memahami definisi pengalaman belajar dan landasan psikologi belajar (psychology of learning). Pengalaman belajar merupakan bentuk interaksi yang dialami atau dilakukan oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Pengalaman belajar yang harus dialami siswa sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan objek belajar. Belajar berlangsung melalui perilaku aktif siswa; apa yang ia kerjakan adalah apa yang ia pelajari, bukan apa yang dilakukan oleh guru. Dalam merancang dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar juga memperhatikan psikologi belajar.
        Ada lima prinsip umum dalam pemilihan pengalaman belajar. Kelima prinsip tersebut adalah :
v  Pengalaman belajar yang diberikan ditentukan oleh tujuan yang akan dicapai,
v  Pengalaman belajar harus cukup sehingga siswa memperoleh kepuasan dari pengadaan berbagai macam perilaku yang diimplakasikan oleh sasaran hasil,
v  Reaksi yang diinginkan dalam pengalaman belajar memungkinkan bagi siswa untuk mengalaminya (terlibat),
v  Pengalaman belajar yang berbeda dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama, dan
v  Pengalaman belajar yang sama akan memberikan berbagai macam keluaran (outcomes).
3.      Mengorganisasi Pengalaman Pengalaman Belajar (organization of learning experiences)
Pengorganisasi atau disain kurikulum diperlukan untuk memudahkan anak didik untuk belajar. Dalam pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal penting yang mendukung, yakni: tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan, perkembangan anak didik, dan kebutuhan masyarakat. Pengorganisasian kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Oleh karena itu kurikulum menentukan apa yang akan dipelajari, kapan waktu yang tepat untuk mempelajari, keseimbangan bahan pelajaran, dan keseimbangan antara aspek-aspek pendidikan yang akan disampaikan.
4.      Mengevaluasi (evaluating) Kurikulum
Langkah terakhir dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses memberikan pertimbangan mengenai data yang terkumpul dengan  tujuan memperbaiki sistem.[1] Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial dalam pengembangan kurikulum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat keputusan , sedangkan riset sebagai proses pengumpulan data sebagai dasar pengambilan keputusan. 
Pengembangan kurikulum pada dasarnya berkisar pada hal-hal yang berkenaan dengan hal-hal berikut :
1)      Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang melaju terlalu cepat.
2)      Pendidikan merupakan proses transisi
3)      Manusia dalam keadaan terbatas kemampuannya untuk menerima, menyampaikan dan mengolah informasi.
Atas dasar inilah, maka diperlukan suatu proses pengembangan kurikulum yang merupakan suatu masalah pemilihan kurikulum yang penyelesaiannya dapat ditinjau dari berbagai pendekatan antara lain pendekatan atas dasar keperluan pribadi. Untuk merealisasikannya, maka diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai.
B.   Model Pengembangan Kurikulum
1.      Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Model pengembangan kurikulum rogers adalah kurikulum yang dikembangkan hendaknya dapat mengembangkan individu secara fleksibel terhadap perubahan-perubahan dengan cara melatih diri berkomunikasi secara interpersonal.
Ada beberapa model yang dikemukakan Rogers yaitu jumlah dari model yang paling sederhana sampai dengan yang komplit. Model-model tersebut disusun sedemikian rupa sehingga model yang berikutnya sebenarnya merupakan penyempurnaan dari model-model sebelumnya. Adapun model tersebut dikemukakan sebagai berikut :[2]
a)    Model I (Model Yang Paling Sederhana)
Menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri atas kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran) dan ujian. Hal ini berdasarkan asumasi bahwa pendidikan adalah evaluasi, dan evaluasi adalah pendidikan, serta pengetahuan adalah akumulasi materi dan informasi.
Model ini mengabaikan cara-cara (metode) dalam proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan urutan atau organisasi bahan pelajaran secara sistematis.
b)   Model II
Model II dilakukan dengan menyempurnakan model I yaitu tentang metode dan organisasi bahan pelajaran.
Dalam pengembangan kurikulum pada model II sudah dipikirkan pemilihan metode yang efektif bagi berlangsungnya proses belajar. Di samping itu bahan pelajaran juga sudah disusun secara sistematis, dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan dalamnya bahan pelajaran. Akan tetapi model II belum memperhatikan masalah teknologi pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan kegiatan pengajaran.
c)    Model III
Model III menyempurnakan model II. Dalam model III memasukkan unsur teknologi pendidikan. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa teknologi pendidikan merupakan faktor yang sangat menunjang dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada bahan pelajaran hanya akan sampai pada model III. Padahal masih ada satu lagi masalah pokok yang harus diperhatikan, yaitu yang berkaitan dengan masalah tujuan.
d)        Model IV
Pengembangan kurikulum merupakan penyempurnaan model III, yaitu dengan memasukkan unsur tujuan ke dalamnya. Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain, baik metode, organisasi bahan, teknologi pengajaran, isi pelajaran maupun kegiatan penilaian yang dilakukan.
2.      Model Taba
Taba menggunakan pendekatan akar rumput (grass-roots approach) bagi perkembangan kurikulum. Taba percaya kurikulum harus dirancang oleh guru dan bukan diberikan oleh pihak berwenang. Menurut Taba guru harus memulai proses dengan menciptakan suatu unit belajar mengajar khusus bagi murid-murid mereka disekolah dan bukan terlibat dalam rancangan suatu kurikulum umum. Menghindari penjelasan grafis dari modelnya, Taba mencantumkan lima langkah urutan untuk mencapai perubahan kurikulum, sebagai berikut : 
a)       Membuat unit percontohan yang mewakili peringkat kelas atau mata pelajaran. Langkah ini sebagai penghubung antara teori dan praktek.
b)            Menguji unit percobaan,
Uji ini diperlukan untuk mengecek validitas dan apakah materi tersebut dapat diajarkan dan untuk menetapkan batas atas dan batas bawah dari kemampuan yang diharapkan.
c)        Revisi dan konsolidasi.
Unit pembelajaran dimodifikasi menyesuaikan dengan keragaman kebutuhan dan kemampuan siswa, sumber daya yang tersedia dan berbagai gaya mengajar sehingga kurikulum dapat sesuai dengan semua tipe kelas.
d)       Pengembangan kerangka kerja.
Setelah sejumlah unit dirancang, perencana kurikulum harus memeriksa apakah ruang lingkup sudah memadai dan urutannya sudah benar.
e)      Memasang dan menyebarkan unit-unit baru.
 Mengatur pelatihan sehingga guru-guru dapat secara efektif mengoperasikan unit belajar mengajar di kelas mereka.


3.      Model Ralp Tyler
Sebagai bapak pengembang kurikulum, Tyler telah menanamkan atas perlunya hal yang lebih rasional, sistematis, dan pendekatan yang berarti dalam tugas mereka.
Dia telah menguraikan dan menganalisis sumber-sumber tujuan yang datang dari anak didik, mempelajari kehidupan kontemporer, mata pelajaran yang bersifat akademik, filsafat, dan psikologi belajar. [3] Model pengembangan kurikulum menurut tyler adalah sebagai berikut : 
a)    Menentukan tujuan. Dalam menentukan tujuan pendidikan melalui langkah-langkah sebagai berikut: mempelajari siswa sebagai sumber tujuan, mempelajari kehidupan kontemporer dilingkungan masyarakat, penentuan tujuan berdasarkan tinjauan filosofis, peninjauan tujuan berdasarkan tinjauan psikologis.
b)   Menentukan pengalaman belajar. Ada 5 prinsip pengalaman belajar, yaitu : memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbuat tingkah laku yang menjadi tujuan, pengalaman belajar harus menyenangkan bagi siswa, siswa harus terlibat dalam belajar, diberikan beberapa pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pendidikan, pengalaman belajar yang disediakan dapat menghasilkan beberapa kemampuan, yaitu: kemampuan berfikir, memperoleh informasi, mengembangkan sikap sosial, mengembangkan minat.
c)         Pengorganisasian pengalaman belajar
d)        Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui hasil belajar sisa sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dan mengetahui
4.      Model D.K. Wheeler
Pendekatan yang digunakan Wheeler dalam pengembangan kurikulum memiliki bentuk rasional. Setiap langkah merupakan pengembangan secara logis terhadap yang terdahulu, lebih umum mengerjakan suatu langkah tertentu tidak dapat dilakukan sebelum langkah-langkah sebelumnya telah selesai.
Hal ini dapat dilihat dari 5 langkah berikut yang tampak sekali bahwa elemen-elemennya merupakan perkembangan daripada elemen dari Tyler dan Taba, tapi hanya dipresentasikan dengan acak agak berbeda.
Langkah-langkah Wheeler :
a.       Seleksi maksud, tujuan dan sasaran.
b.      Seleksi pengalaman belajar untuk membantu mencapai maksud, tujuan dan sasaran.
c.       Seleksi isi melalui tipe-tipe tertentu dari pengalaman yang mungkin ditawarkan.
d.      Organisasi dan integrasi dari pengalaman belajar dan isi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar.
e.       Evaluasi dari setiap fase atau masalah tujuan-tujuan.
Kontribusi Wheeler terhadap pengembangan kurikulum adalah untuk menekankan hakekat lingkaran daripada elemen-eleman kurikulum. Kurikulum proses disini tampak lebih sederhana, memberikan suatu indikasi bahwa langkah-langkah dalam lingkaran bersifat continyu atau berkelanjutan memiliki makna responsif terhadap perubahan-perubahan pendidikan yang ada. Pendapat Wheeler tentang proses kurikulum menekankan pada saling ketergantungan antara satu elemen terhadap elemen-elemen kurikulum lain, dan telah menempatkan test dengan waktu yang baik.
5.      Model Pengembangan Kurikulum Audery dan Nicholls
Mereka mengembangkan suatu pendekatan yang tegas atau jelas yang mencakup elemen-elemen kurikulum secara jelas tetapi ringkas. Nicholls menitik beratkan pada pendekatan yang rasional dari pengembangan kurikulum, khususnya dimana kebutuhan untuk kurikulum baru muncul dari perubahan-perubahan situasi.
Audery dan Nicholls mendefinisikan pekerjaan Tyler, Taba dan Wheeler dengan penekanan kurikulum proses yang siklus atau berbentuk lingkaran dan kebutuhan untuk langkah awal yaitu, analisis situasi. Keduanya mengungkapkan bahwa sebelum elemen-elemen lebih jelas dalam proses diambil atau dilakukan, konteks dan situasi yang mana keputusan-keputusan kurikulum dibuat memerlukan pertimbangan yang mendetail dan serius.
Langkah-langkah dalam proses perkembangan kurikulum Nicholls adalah :
a)      Analisis situasi
b)      Seleksi tujuan
c)      Seleksi dan organisasi isi
d)     Seleksi dan organisasi metode
e)      Evaluasi
Pada analisis situasi merupakan suatu tindakan yang disengaja untuk memaksa para pengembang kurikulum agar lebih responsif terhadap lingkungan mereka dan secara khusus untuk kebutuhan anak didik.
Dengan menerapkan analisis situasi sebagai titik permulaan, maka model ini akan memberikan dasar data yang mana tujuan-tujuan yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan. Model ini fleksibel terhadap perubahan-perubahan situasi sehingga hubungan perubahan-perubahan dilihat untuk elemen-elemen pada model berikutnya.





[1] Prof. Udin Syaefudin Sa’ud, Ph.D.,Inovasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta,2013 ) h.99

[2] M. Ahmad, dkk, Pengembangan Kurikulum, (Bandung : CV Pustaka Setia, 1997 ) h.50
[3] Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Jakarta : Gaya Media, 1999) h. 36-37

Saturday, 2 May 2015

~Cara mengobati sakit kepala secara alam

          Sakit kepala merupakan rasa sakit yang terjadi dibagian kepala karena disebabkan oleh beberapa hal seperti stress,dehidrasi dan lain-lain. Dan apabila sakit kepala kambuh di saat jadwal kita yang padat akan terasa sangat mengganggu. So, ada beberapa tips cara meringankan dan mengobati sakit kepala yang bisa kamu coba berikut ini :

1.      Mengatasi sakit kepala dengan es batu.
Tahukan kamu?... ternyata es batu juga dapat kita gunakan untuk mengurangi rasa sakit pada kepala. Caranya mudah, kita hanya perlu mengosok-gosokan / mengkompreskan es batu secara perlahan pada daerah kepala kamu yang terasa sakit. Es batu akan menyebabkan mati rasa pada daerah kepala yang terasa sakit, sehingga dapat mengurangi rasa sakit kepala.
2.      Mengatasi sakit kepala dengan kopi.
Biasanya kalau saya sakit kepala, saya akan minum secangkir kopi. Karena kandungan kafein dalam kopi lebih efektif 40% dalam mengobati sakit kepala. Tapi ingat, jangan terlalu banyak minum kopi karena dapat memicu sakit kepala lagi, jadi minum kopi tidak melebihi 2-3 cangkir / hari.
3.      Mengatasi sakit kepala dengan tidur yang teratur.
Usahakan untuk tidur yang cukup misalnya 7-8 jam sehari agar terhindar dari sakit kepala.
4.      Mengatasi sakit kepala dengan menghindari stress.
Sakit kepala juga disebabkan oleh otot-otot syaraf yang tegang karena terlalu banyak pikiran yang akhirnya menyebabkan stress dan sakit kepala. Jadi usahakan tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan. Luangkan juga waktu kamu untuk refreshing seperti melakukan hobi kamu atau jalan-jalan.

Itulah tips cara mengobati sakit kepala secara alami yang dapat kamu coba dirumah. Semoga bermanfaat.


Makalah Demokrasi dan Inovasi Pendidikan dalam Membentuk Masyarakat Madani.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Demokrasi dan Inovasi Pendidikan dalam Membentuk Masyarakat Madani.

1.     Pengertian Demokrasi
Secara etimologis “Demokrasi” terdiri dari dua kata Yunani, yaitu demos, yang berarti rakyat atau penduduk setempat, dan cratein atau cratos , yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Gabungan dua kata demos-cratein dan demos-cratos (demokrasi) memiliki suatu arti sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat , dan untuk rakyat. [1]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, demokrasi adalah gagasan / pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga Negara.[2] Istilah demokrasi memang pertama kali digunakan dalam kontek politik yang berkaitan dengan sistem kenegaraan. Pada pasca perang dunia II, demokrasi telah berkembang menjadi sesuatu yang bersifat universal dan digunakan sebagai simbol peradaban modern. Pada era modern, demokrasi terkenal bersamaan dengan meletusnya revolusi Perancis untuk membebaskan rakyat dari sistem politik otoriter, dengan semboyannya : Liberty, egalite, fraternite. Semboyan tersebut menjadi sumber demokrasi yang menjalar keberbagai penjuru dunia.
Menurut John S. Brubacher, sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Muthohar, dalam demokrasi setidaknya ada empat prinsip yang saling terkait dan tak terpisahkan. Keempat prinsip demokrasi tersebut adalah:
1) demokrasi sebagai kebebasan (freedom).
2) demokrasi sebagai penghormatan akan martabat orang lain (as respect for digniry of person).
 3) demokrasi sebagai persamaan (equality).
4) demokrasi sebagai wahana berbagi (sharing) dengan pihak lain . [3]

Sedangkan menurut John Dewey, kehidupan bersama yang berlandaskan demokrasi memerlukan :
1.      Suatu “visi” dan “kode etik” yang dijabarkan secara formal dalam hukum  atau undang-undang yang harus dipahami oleh warga.
2.      Sistem hukum yang objek dan memadai.
3.      Sistem pemerintahan yang didasarkan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
4.      Struktur sosial, politik dan ekonomi yang menjauhi monopoli dan memungkinkan terjadinya moilitas  yang tinggi dan kesempatan yang adil bagi semua warga.
5.      Kebebasan berpendapat agar ide-ide warga masyarakat dapat diserap oleh pemerintah.
6.      Kebebasan menentukan pilihan pribadi.[4]
Menurut Peter Salim , demokrasi adalah pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua Negara. Sedangkan , Zaki Badawi berpendapat bahwa demokrasi adalah menetapkan dasar-dasar kebebasan dan persamaan terhadap individu-individu yang tidak membedakan asal, jenis, agama dan bahasa.
Menurut Dede Rosyana, istilah demokrasi memang muncul dan dipakai dalam kajian politik, yang bermakna kekuasaan berada di tangan rakyat, mekanisme berdemokrasi dalam politik tidak sepenuhnya sesuai dengan mekanisme dalam lembaga pendidikan, namun secara substansif demokrasi membawa semangat dalam pendidikan, baik dalam perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi.
Apabila dihubungkan dengan pendidikan maka pengertiannya sebagai berikut :
Ø  Vebrianto memberikan pendapat pendidikan yang demokrasi adalah pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak (peserta didik) mencapai tingkat pendidikan sekolah yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuannya.
Menurut Sugarda Purbakawarja, memberikan definisi bahwa demokrasi pendidikan, adalah pengajaran pendidikan yang semua anggota masyarakat mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang adil.
Sedangkan menurut M. Muchijiddin Dimjati dan Muhammad Roqib, bahwa didikan adalah pendidikan yang berprinsip dasar rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama6
Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa demokrasi pendidikan merupakan suatu pandangan yang mengutamakan persamaan kewajiban dan hak dan perlakuan oleh tenaga kependidikan terhadap peserta didik dalam proses pendidikan.
2.    Inovasi Pendidikan dalam Membentuk Masyarakat Madani.
Masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya; dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Namun demikian, masyarakat bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara, taken for granted. Masyarakat adalah konsep yang cair yang dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus. Bila kita kaji, masyarakat di negara-negara maju yang sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat madani, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi masyarakat madani, yakni adanya democratic governance (pemerintah demokratis yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic civillan (masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility dan civil resilience).
Sejak digulirkannya istilah masyarakat madani pada tahun 1995 oleh Datuk Anwar (Mahasin, 1995:lx), sejak itu pula upaya untuk mewujudkan masyarakat madani telah “menggoda” dan memotivasi para pakar pendidikan untuk menata dan mencari masukan guna mewujudkan masyarakat madani yang dimaksud. Namun, pihak-pihak yang skeptis meragukan keberhasilan bangsa Indonesia mewujudkan masyarakat madani. Dalam hal ini, masyarakat madani adalah sebuah impian (dream) suatu komunitas tertentu. Oleh karena itu, banyak pihak meragukan upaya bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang diharapkannya, karena formatnya pun belum jelas. Banyak pihak memberikan dugaan bahwa Indonesia masih akan jauh dari pembentukan masyarakat madani karena demokratisasi pendidikan belum berjalan lancar, sistem pendidikannya masih menerapkan faham kekuasaan, masih terlalu berbau feudal, dan belum memperhatikan aspirasi kemajemukan peserta didik secara memadai. Jika reformasi dan inovasi pendidikan memang mendesak untuk dilakukan dan agar kita memiliki andil dalam membentuk dan menghadapi masyarakat madani, maka permasalahan antara lain adalah, “sampai sejauh mana pemahaman kita tentang makna masyarakat madani (ontologinya)?, nilai-nilai manfaat apa yang diperoleh dengan terbentuknya masyarakat madani (aksiologinya)?, dan bagaimana pemecahan masalah atau bagaimana cara melaksanakan demokratisasi pendidikan untuk mewujudkan masyarakat madani (epistemologinya)?, bagaimanakah arah reformasi dan inovasi pendidikan harus dilakukan?, bagaimanakah agar demokratisasi pendidikan itu berjalan mulus tanpa hambatan dan penyimpangan?, bagaimana kekuasaan dan kepentingan pribadi atau golongan tidak menggoda untuk menunda demokratisasi pendidikan?. Mengingat banyaknya masalah yang dihadapi dalam mewujudkan masyarakat madani, maka pada kesempatan ini pembahasan dibatasi pada apakah makna masyarakat madani itu, apakah manfaat mewujudkan masyarakat madani itu?, dan bagaimana cara mewujudkan masyarakat madani melalui pendidikan demokratisasi pendidikan?
Salah satu cara untuk mewujudkan masyarakat madani adalah dengan melakukan demokratisasi pendidikan. Dalam perkembangannya, demokrasi bermakna semakin spesifik lagi yaitu fungsi-fungsi kekuasaan politik merupakan sarana dan prasarana untuk memenuhi kepentingan rakyat. Konsep demokrasi memberi keyakinan bahwa unsur-unsur rakyat senantiasa menjadi faktor utama yang dilibatkan dalam pemerintahan. Oleh karena itu, demokrasi mendapat sambutan luar biasa di dalam hati sanubari rakyat karena demokrasi lebih berpihak kepada rakyat. Dengan demokrasi, rakyat boleh berharap bahwa masa depannya ditentukan oleh dan untuk rakyat, sedangkan demokratisasi ialah proses menuju demokrasi. Tujuan demokratisasi pendidikan ialah menghasil lulusan-lulusan yang merdeka, berpikir kritis dan sangat toleran dengan pandangan dan praktik-praktik demokrasi (Suryadi,1999:23).
Generasi penerus sebagai anggota masyarakat harus benar-benar disiapkan untuk membangun masyarakat madani yang dicita-citakan. Masyarakat dan generasi muda yang mampu membangun masyarakat madani dapat dipersiapkan melalui pendidikan (Hartono,1999:55). Senada dengan pendapat Hartono tersebut, Marzuki (1999:50) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mewujudkan masyarakat madani adalah melalui jalur pendidikan, baik disekolah maupun di luar sekolah.
Generasi penerus merupakan anggota masyarakat madani di masa mendatang. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali cara-cara berdemokrasi melalui demokratisasi pendidikan. Dengan demikian, demokrasi pendidikan berguna untuk menyiapkan peserta didik agar terbiasa bebas bicara dan mengeluarkan pendapat secara bertanggung jawab, turut bertanggung jawab , terbiasa mendengar dengan baik dan menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, terbiasa bergaul dengan rakyat, ikut merasa memiliki, sama-sama merasakan suka dan duka dengan masyarakatnya , dan mempelajari kehidupan masyarakat. Kelak jika generasi panerus ini menjadi pemimpin bangsa, maka demokratisasi pendidikan yang telah dialaminya akan mengajarkan kepadanya bahwa seseorang penguasa tidak boleh terserabut dari budaya dan rakyatnya, pemimpin harus senantiasa mengadakan kontak dengan rakyatnya, mengenal dan peka terhadap tuntutan hati nurani rakyatnya, suka dan duka bersama, menghilangkan kesedihan dan penderitaan-penderitaan atas kerugian-kerugian yang dialami rakyatnya. Pernyataan ini  mendukung pendapat Suwardi (1999:66) yang menyatakan bahwa sistem pendidikan yang selalu mengandalkan kekuasaan pendidik, tanpa memperhatikan pluralisme subjek didik, sudah saatnya harus diinovasi agar tercipta masyarakat madani. Upaya ke arah ini dapat ditempuh melalui demokratisasi pendidikan.
B.   Prinsip-Prinsip Demokrasi dalam Pendidikan
Dalam setiap pelaksanaan pendidikan selalu terkait dengan masalah-masalah, antara lain:
1.      Hak asasi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan.
2.      Kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan.
3.      Hak dan kesempatan atas dasar kemampuan mereka.
Dari prinsip-prinsip tadi dapat dipahami bahwa ide dan nilai demokrasi pendidikan itu sangat banyak dipengaruhi oleh alam pikiran, sifat dan pikiran masyarakat di mana mereka berada, karena dalam kenyataannya bahwa pengembangan demokrasi pendidikan dan penghidupan masyarakat. Misalnya, masyarakat agraris akan berbeda dengan masyarakat metropolitan dan modern dan lain sebagainya.
Apabila yang dikemukakan tersebut dikaitkan dengan     prinsip-prinsip demokrasi pendidikan yang telah diungkapkan, tampaknya ada beberapa butir penting yang harus diketahui dan diperhatikan, diantaranya :
1.      Keadilan dalam pemerataan kesempatan belajar bagi semua warga Negara dengan cara adanya pembuktian kesetiaan dan konsisten pada sistem politik yang ada.
2.      Dalam upaya pembentukan karakter bangsa sebagai bangsa yang baik.
3.      Memiliki suatu ikatan yang erat dengan cita-cita nasional.
Dapat dipahami bahwa bagi bangsa Indonesia upaya pengembangan demokrasi mempunyai sifat dan karakteristik sendiri yang berbeda dengan yang dilaksanakan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Hal itu tentu saja sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya yang berakar dan kepribadian bangsa.
Di bidang pendidikan, cita-cita demokrasi yang akan dikembangkan dengan tidak menanggalkan ciri-ciri dan sifat kondisi masyarakat yang ada. Melalui proses vertical dan horizontal komunikatif, perlu dirumuskan



[1]A. Ubaidillah, dkk. Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani-edisi ketiga (Jakarta : Prenada Media, 2008) h.36 
[2] Tim penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1989) h.195
[3]Ibid., h.57
[4] Ibid., h.58